Laman

▼

Sabtu, 27 Februari 2016

bab II





BAB II

TINJAUAN TEORITIS


A.    Konsep Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA )

Penyakit ISPA menyebabkan 4,25 juta kematian di seluruh dunia setiap tahun, ISPA juga merupakan penyebab utama penyakit pada anak-anak dan pembunuh utama. 20-40% dari semua rawat inap antara anak-anak adalah karena infeksi saluran pernapasan akut. Pneumonia menyebabkan hampir 1,6 juta kematian pertahun pada anak balita dan menjadi pembunuh global terbesar dalam kelompok umur balita (WHO, 2012).
1.      Definisi ISPA
ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut, istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura (WHO, 2011).
ISPA (infeksi saluram pernafasan akut) adalah infeksi akut yang melibatkan organ salura pernafasan bagian atas dan saluran pernafasan bawah. Infeksi ini di sebabkan oleh virus, jamur dan bakteri ( Markamah. et al.2012).
Nasopharyngitis akut (setara dengan common cold) di sebabkan oleh sejumlah virus, biasanya rhinoviruses, RSV, adenovirus, virusinfluenza, atau virus parainfluenza (Hartono dan Dwi Rahmawati, 2012).


2.      Penyebab
Menurut ( Markamah. et al. 2012) ISPA dapat di sebabkan oleh :
a.       Bakteri: ascherichia coli, strepcoccus pneumonia, chlamidya, trcahomatis,clamidia pneumonia, mycoplasma pneumonia, dan beberapa bakteri lain.
b.      Virus : miksorvirus, adenovirus, kronavirus, pikornavirus, virus influenza, rhinovirus, respiratorik syncytial virus, dan beberapa virus lain.
Jumlah penderita infeksi pernafasaan akut kebanyakan pada anak menurut (Hartono. R, 2012). Etiologi dan infeksinya mempengaruhi umur anak,musim, kondisi tempat tinggal, dan masalah kesehatan yang ada.
1)      Agen penginfeksi
Sistem pernafasan menjadi terpengaruh oleh bermacam-macam organisme terinfeksi. Banyak infeksi yang disebabkan oleh virus, terutama respiratory synctial virus (RSV). Agen lain melakukan serangan pertama atau kedua melibatkan grup A B-hemolytic streptococcus, staphylococci, haemophilus, influenzae, chlamydia trachomatis, mycoplasma, dan pneumococci.
2)      Umur
Bayi umur dibawah 3 bulan mempunyai angka infeksi yang rendah ,karena fungsi pelindung dari antibodi keibuan. Infeksi meningkat pada umur 3-6 bulan, pada waktu ini antara hilangnya antibodi keibuan dan produksi antibodi bayi itu sendiri.

3)      Ukuran
Ukuran anatomi mempengaruhi respon infeksi sistem pernafasan. Diameter saluran pernafasan terlalu kecil pada anak-anak  akan menjadi sasaran radang selaput lendir  dan peningkatkan produksi sekresi. Disamping itu jarak antara struktur dalam sistem yang pendek pada anak-anak, walaupun organisme bergerak dengan cepat kebawah sistem pernafasan yang mencakup secara luas. Pembuluh estachius relatif pendek dan terbuka pada anak kecil dan anak muda yang membuat patogen mudah untuk masuk ke telinga bagian tengah.
4)      Daya tahan
kemampuan untuk menahan organisme penyerang dipengaruhi banyak faktor.kekurangan sistem kekebalan pada anak beresiko terinfeksi. Kondisi lain yang mengurangi daya kekuatan tubuh adalah malnitrisi,anemia,kelelahan, dan tubuh yang menakutkan.
5)      Variasi musim
Banyaknya patogen pada sistem pernafasan yang muncul dalam wabah selama bulan musim semi dan dingin, tetapi infeksi mycoplasma sering muncul pada musim gugur dan musim semi. Infeksi yang berkaitan dengan asma (seperti asma bronkhitis) frekuensi banyak muncul selama musim dingin. Musing dingin dan musim semi adalah tipe “musim RSV”.


2.      Cara Penularan ISPA
Penularan bibit penyakit ISPA dapat terjadi dari penderita penyakit ISPA dan carrier yang disebut juga reservoir bibit penyakit yang ditularkan kepada orang lain melalui kontak langsung atau melalui benda-benda yang telah tercemar bibit penyakit termasuk udara. Penularan melalui udara di maksudkan adalah cara penularan yang terjadi tanpa kontak dengan penderita maupun dengan benda yang terkontaminasi dan tidak jarang penyakit yang sebagian ilmu besar penularanya adalh karena menghisap udara yang mengandung penyebap atau mikroorganisme tempat kuman berada (reservoir) (Iwansain, 2007).
ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, cipratan bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya (Erlien, 2008).
3.      Manifestasi klinis
Umumnya infeksi saluran pernafas akut biasanya di tandai dengan keluhan dan gejala yang ringan, namun sering berjalnya waktu, keluhan dan gejala ringan tersebut bisa menjadi berat kalau tidak segera di atasi. Oleh sebab itu, jika anak / balita sudah menunjukan gejala penyakit ISPA, maka harus segera di obati bisa menjadi beras sehingga yang bisa menyebakan kamtian. Gejala yang ringan biasanya di awali dengan demam, hidung tersumbat dan sakit tenggorokan. bahwa tanda dan gejala bisa di lihat dari tanda – tanda klinis dan hasil laboratorium.
Secara klinis pemeriksaan respirasi akan terdapat tanda dan gejala sebagai berikut: Takipnea, nafas tidak teratur (apnea), traksi dinding torax, nafas cuping hidung, sianosis, suara nafas lemah atau hilang, grunting expiratoir dan wheezing. Sedangkan pada system kardiovaskuler akan menunjukan gejal takikardi, brakikardi, hypertensi, hypotensi dan cardiac errest. Sedangkan hasil pemeriksaan laboratorium adalah jika di temukan hipoksemia, hiperkapnea, dan asidosis metabolic maupun asidosis respiratorik ( Markamah. et al.2012).
4.      Patofisiologi
Proses terjadinya ISPA di awali dengan masuknya bakteri ; ascherichia coli, strepcoccus pneumonia, chlamidya, trcahomatis,clamidia pneumonia, mycoplasma pneumonia, dan beberapa bakteri lain dan virus ; miksorvirus, adenovirus, kronavirus, pikornavirus, virus influenza, rhinovirus, respiratorik syncytial virus masuk dalam tubuh manusia melalui pertikel udara (droplent infeksius), kuman ini akan melekat pada sel epitel hidung, dengan mengikuti proses pernafasn maka kuman tersebut bias masuk kedalam bronkus dan masuk delam saluran pernafasn, yang mengakibatkan demam batuk, pilek, sakit kepala dan sebagainya ( Markamah. et al.2012).
5.      Pemeriksaan diagnostic
Pemeriksaan foto rentogen ; Thorax
Pemeriksaan laboratorium darah lengkap; Hemoglobin, hemotokrit, kultur tengkorak, kadar protein C reaktif, test anti body, test serelogi untuk IgM atau peningkatan titer IgG menunjukan infeksi oleh mycoplasma atau clamydia. Hipoksemia, hiperkapnea dan asidosis metabolic maupun asidosis respiratorik ( Markamah. et al.2012).
6.      Penatalaksanaan Terapeutik
Pengobatan berdasarkan usia anak, kondisi klinis dan kondisi epidemologi. Untuk penderita ISPA yang ringancukup di rawat di rumah dengan di berikan obat penurun panas yang bias di beli took obat/apotik, jika di sertai batu bias di berikan obat tradisional berupa ½ sendok the jeruk nipis dan ½ sendok the madu/kecap, bias di berikan 3-4x/hari, jika dalam 3 hari belum ada perbaikan segera di bawa ke dokter/pusat layanan kesehatan lainya.Penanganan yang di lakukanmeliputi terapi suportif dan terapi etiologi. Terapi suportif dengan memberikan oksigen seusai kebutuhan anak, meningkatkan asupan makanan anak, menoreksi ketidak seimbangan asam basa dan elektrolit sesuai kebutuhan anak tersebut. Apabila penyebab ISPA belum di ketahui secara pasti dapat di berikan terapi antibiotic secara empitis, tetapi kalo sudah di ketahui secara pasti, misalkan di sebabkan oleh virus maka perlu di berikan antibiotic. Antibiotik yang biasa di guunakan untuk mengatasi penyakit ISPA bawah ini adalah Kotrimoksasol, amplisilin, amoksislin, gentamisin, sefotaksim dan eritomisin ( Markamah. et al.2012).
7.      Komplikasi
Apabila penyakit ISPA tidak di obati dan jika di sertai dengan malnutrisi, maka penyakit tersebut menjadi berat dan akan menyebabkan terjadi bronkititis, pneumonia, otitismedia, sinusitis, gagal nafas, cardiac arrest, syok dan sebagainya ( Markamah. et al.2012).
8.      Pencegahan
Menurut ( Markamah. et al.2012) cara pencegahan ISPA pada anak dapat di lakukan;
a.         Pada anak : Cegah terjadinya malnutrisi, cegah terjadinya anemia, pada anak, berikan vaksinisasi polikarida pneumokokus dan vaksin konjugat pneumokokal, perlu juga di berikan vitamin A, Asam folat, zat besi, kalsium, dan mikronutrein (seng).
b.        Pada orang tua/pengasuh: Berikan pendidikan kesehatan pada orang tua/pengasuh bahwa penularan penyaki ini karena droplet/percikan, sehingga kalo bersin atau batuk mulut anak harus ditutup dengan tangan atau masker, menjaga kebersihan perorangan, dan lingkungan, dengan mencuci tangan, perbaiki ventilasi udara rumah, menganjurkan / menjaga anak agar tidakberhubungan dengan para penderita ISPA.
9.      Faktor risiko terjadinya ISPA pada anak
Menurut Departemen Kesahatan RI (2008:2) secara umum terdapat 3 (tiga) faktor risiko terjadinya ISPA yaitu faktor lingkungan, faktor individu anak, dan faktor perilaku.
a.       menurut (Markamah. et .al. 2012) adalah sebagai berikut:
1)      Status Imunisasi, anak yang tidak dapat di imunisasi mempunyai resiko lebih tinggi dari pada yang mendapatkan imunisasi.
2)      Pembrian kapsul VitaminA; Vit A meningkatkan imunitas anak, anak atau bayi yang tidak mendaptkan vitamin A, lebih beresiko besar terkena penyakit ISPA.
3)      Anggota keluarga yang merokok di dalam rumah
4)      Status ekonomi yang rendah dan hunian yang padat (polusi udara).
b.      Menurut (Noor, 2008) Terjadinya infeksi saluran pernafasan akut pada anak dapat di pengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :
1)      Faktor agent atau disebut pula faktor penyebab penyakit dimana faktor ini  yang menyebabkan adanya penyakit.
2)      Faktor host dalam hal ini manusia sebagai objek dari penyakit
3)      Faktor lingkungan dimana lingkungan sebagai medianya
a)      Faktor Lingkungan
Pencemaran udara dalam rumah asap rokok dan asap hasil pembakaran bahan bakar untuk memasak dengan konsentrasi tinggi dapat merusak mekanisme pertahan paru sehingga akan memudahkan timbulnya ISPA. Hal ini dapat terjadi pada rumah yang keadaan ventilasinya kurang dan dapur terletak di dalam rumah, bersatu dengan kamar tidur, ruang tempat bayi dan anak balita bermain. Hal ini lebih dimungkinkan karena bayi dan anak balita lebih lama berada di rumah bersama ibunya sehingga dosis pencemaran tentunya akan lebih tinggi. Hasil penelitian diperoleh adanya hubungan antara ISPA dan polusi udara, diantaranya ada peningkatan risiko bronchitis, pneumonia pada anak yang tinggal di daerah lebih terpolusi, dimana efek ini terjadi pada kelompok umur 9 bulan dan 6 – 10 tahun.

B.     Konsep Lingkungan Fisik Rumah

Faktor lingkungan, baik lingkungan fisilk, biologis maupun lingkungan social. Maksudnya membangun sebuah rumah harus memperhatikan tempat di mana rumah itu di dirikan. Di gunung atau di tempat tepi pantai, di desa ataukah di kota, di daerah dingin atau panas, di daerah gunung berapi, daerah gempa atau di daerah terbebas gempadan sebagainya ( Notoaatmojo, 2008)

1.      Definisi fisik rumah.
Definisi perumahan (housing) menurut WHO adalah : suatu struktur fisik di mana orang menggunakannya untuk tempat berlindung, dimana lingkungan dari struktur tersebut termasuk juga semua fasilitas dan pelayanan yang diperlukan, perlengkapan yang berguna untuk kesehatan jasmani, rohani dan keadaan sosial yang baik untuk keluarga dan individu.
Rumah Adalah tempat untuk tinggal yang dibutuhkan oleh setiap manusia dimanapun dia berada. Rumah adalah struktur fisik terdiri dari ruangan, halaman dan area sekitarnya yang dipakai sebagai tempat tinggal dan sarana pembinaan keluarga (UU RI No. 4 Tahun 1992).
Menurut penulisan Aswar, dalam buku Pengawasan Penyehatan Lingkungan Pemukiman oleh Djasio Sanropie, rumah bagi manusia mempunyai arti :
a)    Sebagai tempat untuk melepaskan lelah, beristirahat setelah penat melaksanakan kewajiban sehari-hari.
b)   Sebagai tempat untuk bergaul dengan keluarga atau membina rasa kekeluargaan bagi segenap anggota keluarga yang ada.
c)    Sebagai tempat untuk melindungi diri dari bahaya yang dating mengancam.
d)   Sebagai lambang status sosial yang dimiliki, yang masih dirasakan sampai saat ini.
e)    Sebagai tempat untuk meletakkan atau menyimpan barang-barang yang dimiliki yang terutama masih ditemui pada masyarakat pedesaan.
Sedangkan menurut Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum, rumah bagi keluarga mempunyai arti sebagai berikut :
1)   Tempat untuk berlindung.
Keluarga bertempat tinggal dalam rumah untuk melindungi diri dari panas, hujan dan gangguan lainnya sehingga dapat tinggal dengan rasa aman dan tenteram.
2)   Tempat Pembinaan Keluarga
Rumah sebagai tempat tinggal dan pertumbuhan keluarga mempunyai peranan yang besar dalam pembinaan watak penghuninya. Rumah hendaknya dapat menjadi wadah kegiatan pembinaan keluarga melalui bimbingan pengetahuan, ketrampilan, perilaku yang baik. Karena rumah merupakan tempat pendidikan yang pertama dan utama bagi keluarga, terutama bagi pengembangan kepribadian anak. Dengan mempersiapkan rumah yang memenuhi syarat diharapkan dapat menampung kegiatan pembinaan bagi anggota keluarga dan mendorong terciptanya kerukunan dan kebahagiaan keluarga.
3)   Tempat Kegiatan Keluarga
Rumah sebagai tempat pertemuan berbagai kegiatan keluarga, mempunyai arti penting dalam memberikan suasana yang menunjang kegiatan itu sendiri, sehingga dalam keluarga dapat menjalankan kegiatan dengan rasa senang, tenteram dan nyaman. Untuk mencapai keadaan ini, perlu disiapkan rumah sehat yang dapat menampung anggota keluarga dalam melakukan kegiatan dan kebiasaan dengan baik. Rumah yang sehat dan nyaman akan berpengaruh pada kesehatan jasmani dan rohani anggota keluarga itu.
Rumah adalah salah satu persyaratan pokok bagi kehidupan manusia. Rumah atau tmpat tinggal manusia, dari zaman ke zaman mengalami perkembangan. Pada zaman purba manusia manusia bertempat tingal di gua, kemudian berkewmbang, dengan mendirikan rumah tempat tinggal di hutan dan hutan di bawah pohon. Sampai abad modern ini manusia sudah membangun rumah (tempat tinggalnya) bertingkat berpelengkapi peralatan yang serba modern. Sejak zaman dulu manusia mendesain rumahnya dengan ide mereka masing – masing yang dengan sendirinya yang berdasarkan kebudayaan masyarakat setempat dan membangun rumah mereka dengan bahan yang ada di setempat (local material) pula. Setelah manusia memasuki abad modern ini meskipun rumah mereka di bangu dengan bukan bahan – bahan setempat, tetapi kadang desainya kadang samih mewarisi kebudayaan generasi sebelumny. Perumahan di rumah kota dewasa ini sudah barang tentu sudah tentu sudah di sesuaikan dengan teknologi arsitektur yang memadai. Masalah perumahan dari aspek teknologi tepat guna khususnya di pedesaan (Notoatmodjo. et al. 2011).
2.      Faktor-faktor yang perlu di perhatikan dalam membangun sebuah rumah.
1)      Faktor lingkungan, baik lingkungan fisilk, biologis maupun lingkungan social. Maksudnya membangun sebuah rumah harus memperhatikan tempat di mana rumah itu di dirikan. Di gunung atau di tempat tepi pantai, di desa ataukah di kota, di daerah dingin atau panas, di daerah gunung berapi, daerah gempa atau di daerah terbebas gempadan sebagainya.
2)      Tingkat kemampuan ekonomi masyaratakat
Hal ini di maksudkan rumah di bangun berdasarkan kemampuan keuangan penghuninya, untuk itu maka bahan – bahan setempat merupakan bahan – bahan pokok pembuatan rumah. Mendirikan rumah adalah bukan sekedar berdiri pada saat itu saja, namun di perlukan pemeliharaan seterusnya. Oleh karena itu, kemampuan pemelihran oleh penghuninya perlu di pertimbangkan.

3)      Teknologi yang di miliki oleh masyarakat
Dewasa ini teknologi perumahan sudah begitu maju dan begitu modern. Akan teteapi, teknologi modern itu sangt mahal bahkan tidak di mengerti oleh masyarakat. Rakyat pedesaan bagaimanapun sederhananya, sudah mempunyai teknologi perumahan tersendiri yang di punyai oleh turun–temurun. Dalam rangka penerapan teknologi tepat guna, maka teknologi yang sudah di punyai oleh masyarakat tersebut di modifikasi. Segi-segi yang merugikan kesehatan di kurangi, dan di pertahankan segi-segi yang sudah positif.
3.      Rumah Sehat
Rumah sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan, yaitu rumah yang memiliki jamban yang sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi rumah yang baik, kepadatan hunian rumah yang sesuai lantai rumah yang tidak terbuat dari tanah (Ratna Farida, 2007).
4.      Syarat – syarat rumah yang sehat terhindar dari ISPA
Didasarkan pada pedoman teknis penilaian rumah sehat Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit ISPA dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI tahun 2007. Pedoman teknis ini disusun berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan Kesehatan Perumahan.

1)   Lantai :
Ubin atau semen adalah baik, namun tidak cocok untuk kondisi ekonomi pedesaan. Lantai kayu sering terdapat pada rumah-rumah orang yang mampu di pedesaan, dan itupun mahal. Oleh karena itu, untuk lantai rumah pedesaan cukuplah tanah biasa yang di daptkan. Syarat yang penting di sini adalah tidak berdebu pada musim kemarau dan tdiak basah pada musim hujan. Untuk memperoleh lantai tanah yang padat (tidak berdebu) dapat di tempuh dengan menyiram dengan air kemudian didaptkan dengan benda-benda padat.
2)   Dinding :
dinding temboksangat baik, namun di samping mahal, tembok sebenrnya kurang cocok untuk daerah tropis, lebih-lebih jika ventililasi rumah tidak cukup. Dinding rumah di pedesaan daerah tropis khususnya pedesaan lebih baik dinding ataupun papan.
3)   Atap
genteng umum di pakai baik daerah perkotaan ataupun pedesaan. Di samping atap genteng adalah cocok untuk daerah tropis, juga dapat terjangkau oleh masyarakat dan bahkan masyarakat dapat membuatnya sendiri. Namun demikian, banyak masyarakat pedesaan yang tidak mampu untuk itu, atap menggunakan daun rumbia atau asbes tidak cocok untuk rumah pedesan, juga menimbulkan suhu panas di dalam rumah.

a)        Ventilasi
Berdasarkan peraturan mentri kesehatan RI nomor 829/ Menkes / VIII / 1999, tentang ketentuan persyaratan kesehatan rumah tinggal secara umum penilaian ventilasi rumah dapat di lakukan dengan cara melihat indikator penghawaan rumah, keluasan ventilasi yang memenuhi syarat ksehatan adalah lebih dari sama dengan 10% dari luas lantai  rumah dan luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah kurang dari 10% dari luas lamtai rumah.
Syarat ventilasi yang baik adalah sebagai berikut ;
1)      Lubang-lubang ventilasi tetap min imal 5% dari luas lantai ruangan, sedangkan luas lubang ventilasi insidentil (dapat di buka dan di tutup0 minimal 5% dari luas lantai. Jumlah keduanya menjadi 10% dari luas ruangan.
2)      Aliran udara di usahakan cross ventilasion dengan menempatkan lubang ventilasi berhadapan antara dua dinding. Aliran udara ini jangan sampai terhalang oleh barang-barang besar, misalnya lemari, dinding, , seakt dan lain –lain.
Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah untuk menjaga agar aliran udara di dalam rumah tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan O2 (oksigen) didalam rumah yang berarti kadar CO2 (karbondioksida) yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat. Tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara didalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan kulit dan penyerapan. Kelembaban ini akan merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri, patogen (bakteri-bakteri penyebab penyakit).
3)      Kualitas udara di dalam rumah tidak melebihi ketentuan sebagai berikut.
a.       Suhu udara nyaman berkisar 180-300 Celcius.
b.      Kelembaban udara berkisar antara 40%-70%.
c.       Konsentrasi gas CO2 tidak melebihi 0,10 ppm/24 jam.
d.      Pertukaran udara=5 kaki kubik per menit per penghuni.
e.       Konsentrasi gas formaldehid tidak melebihi 120 mg/m3.
4)      Pencahayaan
ü  Cahaya alamiah, yakni matahari. Cahaya ini sangat penting karena dapat membunuh bakteri-bakteri patogen didalam rumah, misalnya baksil TBC. Oleh karena itu, rumah yang sehat harus mempunyai jalan masuk cahaya yang cukup. Seyogyanya jalan masuk cahaya (jendela) luasnya sekurang-kurangnya 15-20 % dari luas lantai yang terdapat dalam ruangan rumah. Sinar matahari dapat langsung masuk melalui jendela ke dalam ruangan, tidak terhalang oleh bangunan lain. Lokasi  penempatan jendela pun harus diperhatikan dan diusahakan agar sinar matahari lama menyinari lantai (bukan menyinari dinding). Jalan  masuknya cahaya alamiah juga diusahakan dengan genteng kaca.
ü  Cahaya buatan yaitu menggunakan sumber cahaya yang bukan  alamiah, seperti lampu minyak tanah, listrik, api dan sebagainya.

5)      Kepadatan hunian rumah
     Kepadatan hunian dalam rumah menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No.829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan rumah, kepadatan hunian ruang tidur minimal luasnya 8m2 dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari 2 orang kecuali anak di bawah umur 5 tahun. Berdasarkan kriteria tersebut diharapkan dapat mencegah penularan penyakit dan melancarkan aktivitas. Keadaan tempat tinggal yang padat dapat meningkatkan faktor polusi dalam rumah yang telah ada.
6)      Faktor Polusi
Menurut Lamsidi ( 2003 ) Cerobong asap sering kita jumpai diperusahaan atau pabrik-pabrik industri yang dibuat menjulang tinggi ke atas (vertikal). Cerobong tersebut dibuat agar asap bisa keluar ke atas terbawa oleh angin. Cerobong asap sebaiknya dibuat horizontal tidak lagi vertikal, sebab gas (asap) yang dibuang melalui cerobong horizontal dan ke bak air akan mudah larut. Setelah larut debu halus dan asap mudah dipisahkan, sementara air yang asam bisa dinetralkan oleh media Treated Natural Zeolid (TNZ) yang sekaligus bisa racun dan logam berat. Langkah tersebut dilakukan supaya tidak akan ada lagi pencemaran udara, apalagi hujan asam. Cerobong asap juga bisa berasal dari polusi rumah tangga, polusi rumah tangga dapat dihasilkan oleh bahan bakar untuk memasak, bahan bakar untuk memasak yang paling banyak menyebabkan asap adalah bahan bakar kayu atau sejenisnya seperti arang.
5.      Kriteria rumah sehat :
Kriteria Rumah sehat  yang di tetapkan Depkes RI 2008 adalah sebagai berikut ;
a)   Kering
Rumah dikondisikan dengan membangun sistem bangunan yang dikonstruksi dengan lingkungan dalam ruangan yang terkontrol. Bisa dilakukan dengan menjaga agar sistem saluran air, saluran pembuangan terjaga dengan baik.Begitu pun masalah perembesan dan kebocoran rumah, hendaknya diatur agar tidak terjadi.
b)   Bersih
Sistem bangunan yang dimiliki memungkinkan agar rumah bebas kotoran, debu, asap serta kontaminan lainnya. Rumah yang berada di dekat jalan raya jelas berbeda penangannya dengan rumah yang ada di kompleks persawahan.
c)    Aman
Rumah hendaknya dibangun dengan bentuk, fungsi, dan peralatan yang aman bagi penghuni. Konsep ergonomis di setiap piranti hendaknya juga dipikirkan dengan matang. Sisi keamanan adalah faktor yang penting, demi menghindari terjadinya kecelakaan di dalam maupun di sekitar rumah.
d)   Bebas Kontaminasi
Gunakan cat rumah dan produk-produk bangunan yang aman dan tidak mengganggu kesehatan. Jauhi penggunaan formaldehida untuk meminimalisir kontaminasi anggota keluarga.
e)    Memiliki Ventilasi
Ventilasi berfungsi untuk memperlancar pertukaran udara segar. Standardnya harus ada di setiap ruangan.
f)    Bebas dari hewan pengganggu
Penghuni hendaknya menjaga agar setiap sudut rumah bebas dari hewan pengganggu seperti tikus, kecoa, cicak, dll. Hewan-hewan ini selalu berusaha untuk mencari makanan dan sarang di dalam rumah sehingga anda harus benar-benar ekstra bekerja keras untuk mengenyahkannya.
g)   Terawat
Rumah yang sehat adalah rumah yang setiap elemennya terawat dan terpelihara dengan baik. Para penghuni rumah hendaknya mengatur jadwal khusus untuk saling berbagi tugas melakukan tugas ini demi kepentingan bersama.

C.    Konsep Anak Usia Sekolah

1.      Definisi Anak Usia Sekolah
Menurut Wong (2009), usia sekolah adalah anak pada usia 6-12 tahun, yang artinya sekolah menjadi pengalaman inti anak. Periode ketika anak-anak dianggap mulai bertanggung jawab atas perilakunya sendiri dalam hubungan dengan orang tua mereka, teman sebaya, dan orang lainnya. Usia sekolah merupakan masa anak memperoleh dasar-dasar pengetahuan untuk keberhasilan penyesuaian diri pada kehidupan dewasa dan memperoleh keterampilan tertentu.
Anak sekolah dasar adalah anak yang berusia 6-12 tahun, memiliki fisik lebih kuat mempunyai sifat individual serta aktif dan tidak bergantung dengan orang tua. Banyak ahli menganggap masa ini sebagai masa tenang atau masa latent, di mana apa yang telah terjadi dan dipupuk pada masa-masa sebelumnya akan berlangsung terus untuk masa-masa selanjutnya. Dengan memasuki SD salah satu hal penting yang perlu dimiliki anak dalam kematangan sekolah, tidak saja meliputi kecerdasan dan ketrampilan motorik, bahasa, tetapi juga hal lain seperti dapat menerima otoritas tokoh lain di luar orang tuanya, kesadaran akan tugas, patuh pada peraturan dan dapat mengendalikan emosi-emosinya (Gunarsa, 2006).
2.      Ciri-ciri Anak Usia Sekolah
Menurut Hurlock (2002), orang tua, pendidik, dan ahli psikologis memberikan berbagai label kepada periode ini dan label-label itu mencerminkan ciri-ciri penting dari periode anak usia sekolah, yaitu sebagai berikut:
a.      Label yang digunakan oleh orang tua
1)     Usia yang menyulitkan
Suatu masa dimana anak tidak mau lagi menuruti perintah dan dimana ia lebih banyak dipengaruhi oleh teman-teman sebaya daripada oleh orang tua dan anggota keluarga lainnya.
2)     Usia tidak rapi
Suatu masa dimana anak cenderung tidak memperdulikan dan ceroboh dalam penampilan, dan kamarnya sangat berantakan. Sekalipun ada peraturan keluarga yang ketat mengenai kerapihan dan perawatan barang-barangnya, hanya beberapa saja yang taat, kecuali kalau orang tua mengharuskan melakukannya dan mengancam dengan hukuman.
b.     Label yang digunakan oleh para pendidik
1)     Usia sekolah dasar
Pada usia tersebut anak diharapkan memperoleh dasar-dasar pengetahuan yang dianggap penting untuk keberhasilan penyesuaian diri pada kehidupan dewasa, dan mempelajari berbagai keterampilan penting tertentu, baik keterampilan kurikuler maupun ekstra kurikuler.
2)     Periode kritis
Suatu masa di mana anak membentuk kebiasaan untuk mencapai sukses, tidak sukses, atau sangat sukses. Sekali terbentuk, kebiasaan untuk bekerja dibawah, diatas atau sesuai dengan kemampuan cenderung menetap sampai dewasa.telah dilaporkan bahwa tingkat perilaku berprestasi pada masa kanak-kanak mempunyai korelasi yang tinggi dengan perilaku berprestasi pada masa dewasa.
c.      Label yang digunakan ahli psikologi
1)     Usia berkelompok
Suatu masa di mana perhatian utama anak tertuju pada keinginan diterima oleh teman-teman sebaya sebagai angota kelompok, terutama kelompok yang bergengsi dalam pandangan teman-temannya. Oleh karena itu, anak ingin menyesuaikan dengan standar yang disetujui kelompok dalam penampilan, berbicara, dan perilaku.
2)     Usia penyesuaian diri
Suatu masa dimana perhatian pokok anak adalah dukungan dari teman-teman sebaya dan keanggotaan dalam kelompok.
3)     Usia kreatif
Suatu masa dalam rentang kehidupan dimana akan ditentukan apakah anak-anak menjadi konformis atau pencipta karya yang baru yang orisinil. Meskipun dasar-dasar untuk ungkapan kreatif diletakkan pada awal masa kanak-kanak, namun kemampuan untuk menggunakan dasar-dasar ini dalam kegiatan-kegiatan orisinal pada umumnya belum berkembang sempurna sebelum anak-anak belum mencapai tahun-tahun akhir masa kanak-kanak.
4)     Usia bermain
Bukan karena terdapat lebih banyak waktu untuk bermain daripada dalam periode-periode lain hal mana tidak dimungkinkan lagi apabila anak-anak sudah sekolah melainkan karena terdapat tumpang tindih antara ciri-ciri kegiatan bermain anak-anak yang lebih muda dengan ciri-ciri bermain anak-anak remaja. Jadi alasan periode ini disebut sebagai usia bermain adalah karena luasnya minat dan kegiatan bermain dan bukan karena banyaknya waktu untuk bermain.
3.      Karakteristik Anak Sekolah Dasar
Anak-anak  usia sekolah ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak-anak yang usianya lebih muda. Mereka lebih senang bermain, senag bergerak, senang bekerja dalam kelompok dan senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung.
Menurut Havighurst dalam Desmita (2012), tugas perkembangan anak sekolah dasar meliputi :
a.       Menguasai keterampilan fisik yang diperlukan dalam permainan dan aktivitas fisik
b.      Membina hidup sehat
c.       Belajar bergaul dan bekerja dalam kelompok
d.      Belajar menjalankan peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin
e.       Belajar membaca, menulis dan berhitung agar mampu berpartisipasi dalam masyarakat
f.       Memperoleh sejumlah konsep yang diperlukan untuk berfikir efektif
g.      Mengembangkan kata hati, moral dan nilai-nilai
h.      Mencapai kemandirian pribadi.

4.      Karakteristik Hubungan Anak Usia Sekolah dengan Keluarga
Masa usia sekolah dipandang sebagai masa untuk pertama kalinya anak memulai kehidupan social mereka yang sesungguhnya. Bersamaan dengan itu biasanya akan terjadi perubahan hubungan anatra anak dengan orangtua, namun hubungan orang tua dan anak akan berkembvang dengn baik apabila kedua pihak saling memupuk keterbukaan. Perkembangan kognitif anak akan semakin matang pada usia sekolah, anak-anak akan bengangsur-angsur lebih banyak mempelajari mengenai sikap-sikap dan motivasi orangtuanya, serta memahami aturan-aturan keluarga, sehingga mereka menjadi lebih mampu untuk mengendalikan tingkah laku. Menurut Seifert & Hoffnung (1994) Perubahan ini mempunyai dampak yang besar terhadap kualitas hubunagn antara anak usia sekolah dan orangtua mereka (Desmita, 2012).
5.      Faktor individu anak dengan ISPA
Menurut Kartasasmita (2010:23) faktor risiko adalah faktor atau keadaan yang mengakibatkan seorang anak rentan menjadi sakit atau sakitnya menjadi berat. Berbagai faktor risiko yang dapat meningkatkan kejadian, beratnya penyakit, dan kematian karena pneumonia, yaitu status gizi (gizi kurang dan gizi buruk memperbesar risiko), pemberian ASI (ASI eksklusif mengurangi risiko), suplementasi vitamin A (mengurangi risiko), suplementasi zinc (mengurangi risiko), bayi berat badan lahir rendah (meningkatkan risiko), dan polusi udara dalam kamar terutama asap rokok dan bakaran dari dapur (meningkatkan risiko).
a)      Umur anak
   Sejumlah studi yang besar menunjukkan bahwa insiden penyakit pernapasan oleh virus melonjak pada bayi dan usia dini anak-anak dan tetap menurun terhadap usia. Insiden ISPA tertinggi pada umur 6 –12 bulan.
b)      Berat badan lahir
   Berat badan lahir menentukan pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental pada masa balita. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) mempunyai risiko kematian yang lebih besar dibandingkan dengan berat badan lahir normal, terutama pada bulan-bulan pertama kelahiran karena pembentukan zat anti kekebalan kurang sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit infeksi, terutama pneumonia dan sakit saluran pernapasan lainnya terutama pada bulan-bulan pertama kelahiran karena pembentukan zat anti kekebalan kurang sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit infeksi, terutama pneumonia dan sakit saluran pernapasan lainnya.
Penelitian menunjukkan bahwa berat bayi kurang dari 2500 gram dihubungkan dengan meningkatnya kematian akibat infeksi saluran pernafasan dan hubungan ini menetap setelah dilakukan adjusted terhadap status pekerjaan, pendapatan, pendidikan. Data ini mengingatkan bahwa anak-anak dengan riwayat berat badan lahir rendah tidak mengalami rate lebih tinggi terhadap penyakit saluran pernapasan, tetapi mengalami lebih berat infeksinya.
c)      Setatus Gizi
Masukan zat-zat gizi yang diperoleh pada tahap pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh umur, keadaan fisik, kondisi kesehatannya, kesehatan fisiologis pencernaannya, tersedianya makanan dan aktivitas dari anak itu sendiri. Penilaian status gizi dapat dilakukan antara lain berdasarkan antopometri: berat badan lahir, panjang badan, tinggi badan, lingkar lengan atas.
Keadaan gizi yang buruk muncul sebagai faktor risiko yang penting untuk terjadinya ISPA. Beberapa penelitian telah membuktikan tentang adanya hubungan antara gizi buruk dan infeksi paru, sehingga anak-anak yang bergizi buruk sering mendapat pneumonia. Selain itu adanya hubungan antara gizi buruk dan terjadinya campak dan infeksi virus berat lainnya serta menurunnya daya tahan tubuh anak terhadap infeksi. Balita dengan gizi yang kurang akan lebih mudah terserang ISPA dibandingkan balita dengan gizi normal karena faktor daya tahan tubuh yang kurang. Penyakit Balita dengan gizi yang kurang akan lebih mudah terserang ISPA dibandingkan balita dengan gizi normal karena faktor daya tahan tubuh yang kurang.
d)     Vitamin A
   Sejak tahun 1985 setiap enam bulan Posyandu memberikan kapsul 200.000 IU vitamin A pada balita dari umur satu sampai dengan empat tahun. Balita yang mendapat vitamin A lebih dari 6 bulan sebelum sakit maupun yang tidak pernah mendapatkannya adalah sebagai risiko terjadinya suatu penyakit sebesar 96,6% pada kelompok kasus dan 93,5% pada kelompok kontrol.
Pemberian vitamin A yang dilakukan bersamaan dengan imunisasi akan menyebabkan peningkatan titer antibodi yang spesifik dan tampaknya tetap berada dalam nilai yang cukup tinggi. Bila antibodi yang ditujukan terhadap bibit penyakit dan bukan sekedar antigen asing yang tidak berbahaya, maka dapat diharapkan adanya perlindungan terhadap bibit penyakit yang bersangkutan untuk jangka yang tidak terlalu singkat.
Oleh karena itu usaha massal pemberian vitamin A dan imunisasi secara berkala terhadap anak-anak prasekolah seharusnya tidak dilihat sebagai dua kegiatan terpisah. Keduanya haruslah dipandang dalam suatu kesatuan yang utuh, yaitu meningkatkan daya tahan tubuh dan perlindungan terhadap anak Indonesia sehingga mereka dapat tumbuh, berkembang dan berangkat dewasa dalam keadaan yang baik.

e)      Status Imunisasi
   Bayi dan balita yang pernah terserang campak dan selamat akan mendapat kekebalan alami terhadap pneumonia sebagai komplikasi campak. Sebagian besar kematian ISPA berasal dari jenis ISPA yang berkembang dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti difteri, pertusis, campak, maka peningkatan cakupan imunisasi akan berperan besar dalam upaya pemberantasan ISPA. Untuk mengurangi faktor yang meningkatkan mortalitas ISPA, diupayakan imunisasi lengkap. Bayi dan balita yang mempunyai status imunisasi lengkap bila menderita ISPA dapat diharapkan perkembangan penyakitnya tidak akan menjadi lebih berat. Cara yang terbukti paling efektif saat ini adalah dengan pemberian imunisasi campak dan pertusis. Pemberian imunisasi campak efektif mencegah 11% kematian pneumonia balita dan imunisasi pertusis mencegah 6% kematian pneumonia pada balita.
f)       Faktor perilaku
Faktor perilaku dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit ISPA pada bayi dan balita dalam hal ini adalah praktek penanganan ISPA di keluarga baik yang dilakukan oleh ibu ataupun anggota keluarga lainnya. Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang berkumpul dan tinggal dalam suatu rumah tangga, satu dengan lainnya saling tergantung dan berinteraksi. Bila salah satu atau beberapa anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan, maka akan berpengaruh terhadap anggota keluarga lainnya.
Peran aktif keluarga dan masyarakat dalam menangani ISPA sangat penting karena penyakit ISPA merupakan penyakit yang ada sehari-hari di dalam masyarakat atau keluarga. Hal ini perlu mendapat perhatian serius oleh kita semua karena penyakit ini banyak menyerang balita, sehingga ibu balita dan anggota keluarga yang sebagian besar dekat dengan balita mengetahui dan terampil menangani penyakit ISPA ini ketika anaknya sakit.
Keluarga juga perlu mengetahui serta mengamati tanda keluhan dini pneumonia dan kapan mencari pertolongan dan rujukan pada sistem pelayanan kesehatan agar penyakit anak balitanya tidak menjadi lebih berat. Berdasarkan hal tersebut dapat diartikan dengan jelas bahwa peran keluarga dalam praktek penanganan dini bagi balita sakit ISPA sangatlah penting, sebab bila praktek penanganan ISPA tingkat keluarga yang kurang atau buruk akan berpengaruh pada perjalanan penyakit dari yang ringan menjadi bertambah berat.
Dalam penanganan ISPA tingkat keluarga keseluruhannya dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu: perawatan penunjang oleh ibu balita, tindakan yang segera dan pengamatan tentang perkembangan penyakit balita, dan pencarian pertolongan pada pelayanan kesehatan.

g)      Tingkat Pendidikan Ibu yang Rendah
Pendidikan adalah proses seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya dalam masyarakat tempat ia hidup, proses sosial yakni orang yang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol(khususnya yang datang dari sekolah), sehingga ia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimal (Munib dkk, 2004:33).

Dalam Slamet (2002:87), menyatakan bahwa kualitas pendidikan berbanding lurus dengan pencegahan penyakit. Demikian juga dengan pendapatan, kesehatan lingkungan, dan informasi yang dapat diperoleh tentang kesehatan. Semakin rendah pendidikan ibu, semakin tinggi prevalensi ISPA pada balita (Kartasasmita, 2010:24).
h)      Tingkat Sosial Ekonomi yang Rendah
Bayi yang lahir di keluarga yang tingkat sosial ekonominya rendah maka pemenuhan kebutuhan gizi dan pengetahuan tentang kesehatannya juga rendah sehingga akan mudah terjadi penularan penyakit termasuk ISPA (Slamet, 2002:13).

6.      Merokok sebagai Faktor Risiko
Tembakau  sebagai  bahan  baku  pembuatan  rokok  berada  pada  peringkat pertama penyebab kematian yang dapat dicegah di dunia. Tembakau menyebabkan satu dari 10 kematian orang dewasa di seluruh dunia, dan mengakibatkan 5,4 juta kematian pada tahun 2006. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata terjadi satu kematian setiap 6,5 detik. Jika hal itu terus berlanjut, maka diperkirakan kematian pada tahun 2020 akan mendekati dua kali jumlah kematian saat ini (Evy Rachmawati, 2008:2).
Merokok merupakan salah satu faktor risiko penting untuk beberapa penyakit, diantaranya batuk menahun, penyakit menahun seperti penyakit paru obstruktif menahun (PPOM), bronkhitis, dan empisema, ulkus peptikum, infertiliti, gangguan kehamilan, artherosklerosis sampai penyakit jantung koroner, beberapa jenis kanker seperti kanker mulut, kanker paru, dan kanker sistem pernapasan lainnya (Buston, 2007:209).
Variabel merokok sebagai variabel independen dalam suatu penelitian mempunyai variasi yang cukup luas dalam kaitannya dengan dampak yang diakibatkannya. Oleh karena itu, paparan rokok perlu diidentifikasi selengkapnya dari berbagai segi diantaranya:

a)    Jenis perokok: perokok aktif atau perokok pasif
b)    Jumlah rokok yang dihisap: dalam satu batang, bungkus, atau pak perhari.
c)    Jenis rokok yang dihisap: keretek, cerutu atau rokok putih, pakai filter atau tidak.
d)   Cara menghisap rokok: menghisap dangkal, di mulut saja atau isap dalam.
e)    Alasan mulai merokok: sekedar ingin hebat, ikut-ikutan, kesepian, pelarian, sebagai gaya, meniru orang tua.
f)     Umur mulai merokok: sejak umur 10 tahun atau lebih.
Dalam melakukan aksinya, rokok bisa menjadi lebih agresif bila ditemani faktor-faktor lain. Interaksi rokok dengan asbes dapat memberikan peningkatan sepuluh kali terjadinya kanker paru. Rokok dan hipertensi akan meningkat 2 kali lipat untuk penyakit jantung koroner (Buston, 2007:210). Berdasarkan hal tersebut jenis perokok juga dapat dibagi atas perokok ringan sampai berat, diantaranya :
ü Perokok ringan jika merokok kurang dari 10 batang per hari.
ü Perokok sedang jika menghisap rokok antara 10-20 batang per hari.
ü Perokok berat jika merokok lebih dari 20 batang per hari.


D.    Kerangka Teoritis













Lingkungan Fisik Rumah

 

 


















Sumber ; menurut Kemenkes RI 2008, ( Notoadmojo, 2008 ), (Markamah tt. al 2012), (Achmad. dkk, 2004:33) dan (Kartasasmita, 2010:24).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar