BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Konsep Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA )
Penyakit ISPA menyebabkan 4,25 juta kematian di seluruh dunia
setiap tahun, ISPA juga merupakan penyebab utama penyakit pada anak-anak dan
pembunuh utama. 20-40% dari semua rawat inap antara anak-anak adalah karena
infeksi saluran pernapasan akut. Pneumonia
menyebabkan hampir 1,6 juta kematian pertahun pada anak balita dan menjadi
pembunuh global terbesar dalam kelompok umur balita (WHO, 2012).
1.
Definisi ISPA
ISPA
merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut, istilah ini
diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections
(ARI). Penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih
dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran
bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan
pleura (WHO, 2011).
ISPA (infeksi saluram pernafasan akut) adalah infeksi akut
yang melibatkan organ salura pernafasan bagian atas dan saluran pernafasan bawah.
Infeksi ini di sebabkan oleh virus, jamur dan bakteri ( Markamah. et al.2012).
Nasopharyngitis akut (setara dengan common cold) di sebabkan oleh
sejumlah virus, biasanya rhinoviruses,
RSV, adenovirus, virusinfluenza, atau
virus parainfluenza (Hartono dan Dwi Rahmawati, 2012).
2.
Penyebab
Menurut ( Markamah. et al. 2012) ISPA dapat di sebabkan oleh :
a.
Bakteri: ascherichia
coli, strepcoccus pneumonia, chlamidya, trcahomatis,clamidia pneumonia,
mycoplasma pneumonia, dan beberapa bakteri lain.
b.
Virus : miksorvirus, adenovirus, kronavirus,
pikornavirus, virus influenza, rhinovirus, respiratorik syncytial virus, dan
beberapa virus lain.
Jumlah penderita infeksi pernafasaan akut kebanyakan pada
anak menurut (Hartono. R, 2012). Etiologi dan infeksinya mempengaruhi umur anak,musim, kondisi tempat
tinggal, dan masalah kesehatan yang ada.
1) Agen penginfeksi
Sistem pernafasan menjadi terpengaruh oleh
bermacam-macam organisme terinfeksi. Banyak infeksi yang disebabkan oleh virus,
terutama respiratory synctial virus
(RSV). Agen lain melakukan serangan pertama atau kedua melibatkan grup A B-hemolytic streptococcus, staphylococci,
haemophilus, influenzae, chlamydia trachomatis, mycoplasma, dan pneumococci.
2) Umur
Bayi umur dibawah 3 bulan
mempunyai angka infeksi yang rendah ,karena fungsi pelindung dari antibodi
keibuan. Infeksi meningkat pada umur 3-6 bulan, pada waktu ini antara hilangnya
antibodi keibuan dan produksi antibodi bayi itu sendiri.
3)
Ukuran
Ukuran anatomi mempengaruhi
respon infeksi sistem pernafasan. Diameter saluran pernafasan terlalu kecil
pada anak-anak akan menjadi sasaran
radang selaput lendir dan peningkatkan
produksi sekresi. Disamping itu jarak antara struktur dalam sistem yang pendek
pada anak-anak, walaupun organisme bergerak dengan cepat kebawah sistem
pernafasan yang mencakup secara luas. Pembuluh estachius relatif pendek dan
terbuka pada anak kecil dan anak muda yang membuat patogen mudah untuk masuk ke
telinga bagian tengah.
4)
Daya tahan
kemampuan untuk menahan organisme penyerang
dipengaruhi banyak faktor.kekurangan sistem kekebalan pada anak beresiko
terinfeksi. Kondisi lain yang mengurangi daya kekuatan tubuh adalah
malnitrisi,anemia,kelelahan, dan tubuh yang menakutkan.
5)
Variasi musim
Banyaknya patogen pada sistem pernafasan yang muncul
dalam wabah selama bulan musim semi dan dingin, tetapi infeksi mycoplasma
sering muncul pada musim gugur dan musim semi. Infeksi yang berkaitan dengan
asma (seperti asma bronkhitis) frekuensi banyak muncul selama musim dingin.
Musing dingin dan musim semi adalah tipe “musim RSV”.
2.
Cara Penularan
ISPA
Penularan bibit penyakit ISPA dapat terjadi dari
penderita penyakit ISPA dan carrier yang disebut juga reservoir bibit penyakit
yang ditularkan kepada orang lain melalui kontak
langsung atau melalui benda-benda yang telah tercemar bibit penyakit termasuk
udara. Penularan melalui udara di maksudkan adalah cara penularan yang
terjadi tanpa kontak dengan penderita maupun dengan benda yang terkontaminasi
dan tidak jarang penyakit yang sebagian ilmu besar penularanya adalh karena
menghisap udara yang mengandung penyebap atau mikroorganisme tempat kuman
berada (reservoir) (Iwansain, 2007).
ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah,
cipratan bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh
orang sehat kesaluran pernapasannya (Erlien, 2008).
3.
Manifestasi
klinis
Umumnya infeksi saluran pernafas akut biasanya di
tandai dengan keluhan dan gejala yang ringan, namun sering berjalnya waktu,
keluhan dan gejala ringan tersebut bisa menjadi berat kalau tidak segera di
atasi. Oleh sebab itu, jika anak / balita sudah menunjukan gejala penyakit
ISPA, maka harus segera di obati bisa menjadi beras sehingga yang bisa
menyebakan kamtian. Gejala yang ringan biasanya di awali dengan demam, hidung
tersumbat dan sakit tenggorokan. bahwa tanda dan gejala bisa di lihat dari
tanda – tanda klinis dan hasil laboratorium.
Secara klinis pemeriksaan respirasi akan terdapat
tanda dan gejala sebagai berikut: Takipnea, nafas tidak teratur (apnea), traksi
dinding torax, nafas cuping hidung, sianosis, suara nafas lemah atau hilang,
grunting expiratoir dan wheezing. Sedangkan pada system kardiovaskuler akan
menunjukan gejal takikardi, brakikardi, hypertensi, hypotensi dan cardiac
errest. Sedangkan hasil pemeriksaan laboratorium adalah jika di temukan
hipoksemia, hiperkapnea, dan asidosis metabolic maupun asidosis respiratorik (
Markamah. et al.2012).
4.
Patofisiologi
Proses terjadinya ISPA di awali dengan masuknya
bakteri ; ascherichia coli, strepcoccus
pneumonia, chlamidya, trcahomatis,clamidia pneumonia, mycoplasma pneumonia,
dan beberapa bakteri lain dan virus ; miksorvirus,
adenovirus, kronavirus, pikornavirus, virus influenza, rhinovirus, respiratorik
syncytial virus masuk dalam tubuh manusia melalui pertikel udara (droplent infeksius), kuman ini akan
melekat pada sel epitel hidung, dengan mengikuti proses pernafasn maka kuman
tersebut bias masuk kedalam bronkus dan masuk delam saluran pernafasn, yang
mengakibatkan demam batuk, pilek, sakit kepala dan sebagainya ( Markamah. et
al.2012).
5.
Pemeriksaan
diagnostic
Pemeriksaan foto rentogen ; Thorax
Pemeriksaan laboratorium darah lengkap; Hemoglobin, hemotokrit, kultur tengkorak, kadar protein C reaktif, test anti body, test
serelogi untuk IgM atau peningkatan titer IgG menunjukan infeksi oleh
mycoplasma atau clamydia. Hipoksemia, hiperkapnea dan asidosis metabolic maupun
asidosis respiratorik ( Markamah. et al.2012).
6.
Penatalaksanaan
Terapeutik
Pengobatan berdasarkan usia anak, kondisi klinis dan
kondisi epidemologi. Untuk penderita ISPA yang ringancukup di rawat di rumah
dengan di berikan obat penurun panas yang bias di beli took obat/apotik, jika
di sertai batu bias di berikan obat tradisional berupa ½ sendok the jeruk nipis
dan ½ sendok the madu/kecap, bias di berikan 3-4x/hari, jika dalam 3 hari belum
ada perbaikan segera di bawa ke dokter/pusat layanan kesehatan lainya.Penanganan
yang di lakukanmeliputi terapi suportif dan terapi etiologi. Terapi suportif
dengan memberikan oksigen seusai kebutuhan anak, meningkatkan asupan makanan
anak, menoreksi ketidak seimbangan asam basa dan elektrolit sesuai kebutuhan
anak tersebut. Apabila penyebab ISPA belum di ketahui secara pasti dapat di
berikan terapi antibiotic secara empitis, tetapi kalo sudah di ketahui secara
pasti, misalkan di sebabkan oleh virus maka perlu di berikan antibiotic. Antibiotik
yang biasa di guunakan untuk mengatasi penyakit ISPA bawah ini adalah
Kotrimoksasol, amplisilin, amoksislin, gentamisin, sefotaksim dan eritomisin (
Markamah. et al.2012).
7.
Komplikasi
Apabila penyakit ISPA tidak di obati dan jika di
sertai dengan malnutrisi, maka penyakit tersebut menjadi berat dan akan
menyebabkan terjadi bronkititis, pneumonia, otitismedia, sinusitis, gagal
nafas, cardiac arrest, syok dan sebagainya ( Markamah. et al.2012).
8.
Pencegahan
Menurut
(
Markamah. et al.2012) cara pencegahan ISPA pada anak dapat di lakukan;
a.
Pada anak : Cegah terjadinya malnutrisi, cegah
terjadinya anemia, pada anak, berikan vaksinisasi polikarida pneumokokus dan
vaksin konjugat pneumokokal, perlu juga di berikan vitamin A, Asam folat, zat
besi, kalsium, dan mikronutrein (seng).
b.
Pada orang tua/pengasuh: Berikan
pendidikan kesehatan pada orang tua/pengasuh bahwa penularan penyaki ini karena
droplet/percikan, sehingga kalo bersin atau batuk mulut anak harus ditutup
dengan tangan atau masker, menjaga kebersihan perorangan, dan lingkungan,
dengan mencuci tangan, perbaiki ventilasi udara rumah, menganjurkan / menjaga
anak agar tidakberhubungan dengan para penderita ISPA.
9.
Faktor risiko
terjadinya ISPA
pada anak
Menurut
Departemen Kesahatan RI (2008:2)
secara umum terdapat 3 (tiga) faktor
risiko terjadinya ISPA yaitu faktor lingkungan, faktor individu anak, dan
faktor perilaku.
a.
menurut (Markamah. et .al. 2012) adalah sebagai berikut:
1)
Status Imunisasi, anak yang tidak dapat di imunisasi
mempunyai resiko lebih tinggi dari pada yang mendapatkan imunisasi.
2)
Pembrian kapsul VitaminA; Vit A meningkatkan imunitas
anak, anak atau bayi yang tidak mendaptkan vitamin A, lebih beresiko
besar terkena penyakit ISPA.
3)
Anggota keluarga yang merokok di dalam rumah
4)
Status ekonomi yang rendah dan
hunian yang padat (polusi udara).
b.
Menurut (Noor, 2008) Terjadinya infeksi saluran pernafasan akut pada anak dapat di pengaruhi
oleh beberapa faktor antara lain :
1)
Faktor agent atau disebut pula faktor penyebab
penyakit dimana faktor ini yang menyebabkan
adanya penyakit.
2)
Faktor host dalam hal ini manusia sebagai objek dari
penyakit
3)
Faktor lingkungan dimana lingkungan sebagai medianya
a)
Faktor Lingkungan
Pencemaran
udara dalam rumah asap rokok dan
asap hasil pembakaran bahan bakar untuk memasak dengan konsentrasi tinggi dapat
merusak mekanisme pertahan paru sehingga akan memudahkan timbulnya ISPA. Hal
ini dapat terjadi pada rumah yang keadaan ventilasinya kurang dan dapur
terletak di dalam rumah, bersatu dengan kamar tidur, ruang tempat bayi dan anak
balita bermain. Hal ini lebih dimungkinkan karena
bayi dan anak balita lebih lama berada di rumah bersama ibunya sehingga dosis pencemaran tentunya akan lebih tinggi. Hasil penelitian diperoleh adanya hubungan antara ISPA dan
polusi udara, diantaranya ada peningkatan
risiko bronchitis, pneumonia pada anak yang tinggal
di daerah lebih terpolusi, dimana efek ini terjadi pada kelompok umur 9
bulan dan 6 – 10 tahun.
B. Konsep Lingkungan Fisik Rumah
Faktor lingkungan, baik lingkungan fisilk, biologis maupun lingkungan social. Maksudnya membangun sebuah rumah harus memperhatikan tempat di mana rumah itu di dirikan. Di gunung atau di tempat tepi pantai, di desa ataukah di kota, di daerah dingin atau panas, di daerah gunung berapi, daerah gempa atau di daerah terbebas gempadan sebagainya ( Notoaatmojo, 2008)
1.
Definisi fisik
rumah.
Definisi perumahan (housing) menurut WHO adalah :
suatu struktur fisik di mana orang menggunakannya untuk tempat berlindung,
dimana lingkungan dari struktur tersebut termasuk juga semua fasilitas dan
pelayanan yang diperlukan, perlengkapan yang berguna untuk kesehatan jasmani,
rohani dan keadaan sosial yang baik untuk keluarga dan individu.
Rumah Adalah tempat untuk tinggal yang dibutuhkan oleh setiap
manusia dimanapun dia berada. Rumah adalah struktur fisik terdiri dari ruangan,
halaman dan area sekitarnya yang dipakai sebagai tempat tinggal dan sarana
pembinaan keluarga (UU RI No. 4 Tahun 1992).
Menurut penulisan Aswar, dalam buku Pengawasan Penyehatan
Lingkungan Pemukiman oleh Djasio Sanropie, rumah bagi manusia mempunyai arti :
a)
Sebagai tempat untuk melepaskan lelah, beristirahat
setelah penat melaksanakan kewajiban sehari-hari.
b)
Sebagai tempat untuk bergaul dengan keluarga atau
membina rasa kekeluargaan bagi segenap anggota keluarga yang ada.
c)
Sebagai tempat untuk melindungi diri dari bahaya yang
dating mengancam.
d)
Sebagai lambang status sosial yang dimiliki, yang
masih dirasakan sampai saat ini.
e)
Sebagai tempat untuk meletakkan atau menyimpan
barang-barang yang dimiliki yang terutama masih ditemui pada masyarakat
pedesaan.
Sedangkan menurut Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen
Pekerjaan Umum, rumah bagi keluarga mempunyai arti sebagai berikut :
1)
Tempat untuk berlindung.
Keluarga bertempat tinggal dalam rumah untuk
melindungi diri dari panas, hujan dan gangguan lainnya sehingga dapat tinggal
dengan rasa aman dan tenteram.
2)
Tempat Pembinaan Keluarga
Rumah sebagai tempat tinggal dan pertumbuhan keluarga
mempunyai peranan yang besar dalam pembinaan watak penghuninya. Rumah hendaknya
dapat menjadi wadah kegiatan pembinaan keluarga melalui bimbingan pengetahuan,
ketrampilan, perilaku yang baik. Karena rumah merupakan tempat pendidikan yang
pertama dan utama bagi keluarga, terutama bagi pengembangan kepribadian anak.
Dengan mempersiapkan rumah yang memenuhi syarat diharapkan dapat menampung
kegiatan pembinaan bagi anggota keluarga dan mendorong terciptanya kerukunan
dan kebahagiaan keluarga.
3)
Tempat Kegiatan Keluarga
Rumah sebagai tempat pertemuan berbagai kegiatan
keluarga, mempunyai arti penting dalam memberikan suasana yang menunjang
kegiatan itu sendiri, sehingga dalam keluarga dapat menjalankan kegiatan dengan
rasa senang, tenteram dan nyaman. Untuk mencapai keadaan ini, perlu disiapkan
rumah sehat yang dapat menampung anggota keluarga dalam melakukan kegiatan dan
kebiasaan dengan baik. Rumah yang sehat dan nyaman akan berpengaruh pada
kesehatan jasmani dan rohani anggota keluarga itu.
Rumah adalah salah satu persyaratan pokok bagi
kehidupan manusia. Rumah atau tmpat tinggal manusia, dari zaman ke zaman
mengalami perkembangan. Pada zaman purba manusia manusia bertempat tingal di
gua, kemudian berkewmbang, dengan mendirikan rumah tempat tinggal di hutan dan
hutan di bawah pohon. Sampai abad modern ini manusia sudah membangun rumah
(tempat tinggalnya) bertingkat berpelengkapi peralatan yang serba modern.
Sejak zaman dulu manusia mendesain rumahnya dengan ide mereka masing – masing
yang dengan sendirinya yang berdasarkan kebudayaan masyarakat setempat dan
membangun rumah mereka dengan bahan yang ada di setempat (local material) pula. Setelah manusia memasuki abad modern ini
meskipun rumah mereka di bangu dengan bukan bahan – bahan setempat, tetapi
kadang desainya kadang samih mewarisi kebudayaan generasi sebelumny. Perumahan
di rumah kota dewasa ini sudah barang tentu sudah tentu sudah di sesuaikan
dengan teknologi arsitektur yang
memadai. Masalah perumahan dari aspek teknologi tepat guna khususnya di
pedesaan (Notoatmodjo. et al. 2011).
2.
Faktor-faktor
yang perlu di perhatikan dalam membangun sebuah rumah.
1)
Faktor lingkungan, baik lingkungan fisilk, biologis
maupun lingkungan social. Maksudnya membangun sebuah rumah harus memperhatikan
tempat di mana rumah itu di dirikan. Di gunung atau di tempat tepi pantai, di
desa ataukah di kota, di daerah dingin atau panas, di daerah gunung berapi,
daerah gempa atau di daerah terbebas gempadan sebagainya.
2)
Tingkat kemampuan ekonomi masyaratakat
Hal ini di maksudkan rumah di bangun berdasarkan
kemampuan keuangan penghuninya, untuk itu maka bahan – bahan setempat merupakan
bahan – bahan pokok pembuatan rumah. Mendirikan rumah adalah bukan sekedar
berdiri pada saat itu saja, namun di perlukan pemeliharaan seterusnya. Oleh
karena itu, kemampuan pemelihran oleh penghuninya perlu di pertimbangkan.
3)
Teknologi yang di miliki oleh masyarakat
Dewasa ini teknologi perumahan sudah begitu maju dan
begitu modern. Akan teteapi, teknologi modern itu sangt mahal bahkan tidak di
mengerti oleh masyarakat. Rakyat pedesaan bagaimanapun sederhananya, sudah
mempunyai teknologi perumahan tersendiri yang di punyai oleh turun–temurun.
Dalam rangka penerapan teknologi tepat guna, maka teknologi yang sudah di
punyai oleh masyarakat tersebut di modifikasi. Segi-segi yang merugikan
kesehatan di kurangi, dan di pertahankan segi-segi yang sudah positif.
3.
Rumah Sehat
Rumah sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi
syarat kesehatan, yaitu rumah yang memiliki jamban yang sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air
limbah, ventilasi rumah yang baik, kepadatan hunian rumah yang
sesuai lantai rumah yang tidak terbuat dari tanah (Ratna Farida, 2007).
4.
Syarat – syarat
rumah yang sehat
terhindar dari ISPA
Didasarkan pada pedoman teknis penilaian rumah sehat
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit ISPA dan Penyehatan Lingkungan
Depkes RI tahun 2007. Pedoman teknis ini disusun berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor :
829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan Kesehatan Perumahan.
1)
Lantai :
Ubin
atau semen adalah baik, namun tidak cocok untuk kondisi ekonomi pedesaan. Lantai
kayu sering terdapat pada rumah-rumah orang yang mampu di pedesaan, dan itupun
mahal. Oleh karena itu, untuk lantai rumah pedesaan cukuplah tanah biasa yang
di daptkan. Syarat yang penting di sini adalah tidak berdebu pada musim kemarau
dan tdiak basah pada musim hujan. Untuk memperoleh lantai tanah yang padat
(tidak berdebu) dapat di tempuh dengan menyiram dengan air kemudian didaptkan
dengan benda-benda padat.
2)
Dinding :
dinding
temboksangat baik, namun di samping mahal, tembok sebenrnya kurang cocok untuk
daerah tropis, lebih-lebih jika ventililasi rumah tidak cukup. Dinding rumah di
pedesaan daerah tropis khususnya pedesaan lebih baik dinding ataupun papan.
3)
Atap
genteng
umum di pakai baik daerah perkotaan ataupun pedesaan. Di samping atap genteng
adalah cocok untuk daerah tropis, juga dapat terjangkau oleh masyarakat dan
bahkan masyarakat dapat membuatnya sendiri. Namun demikian, banyak masyarakat
pedesaan yang tidak mampu untuk itu, atap menggunakan daun rumbia atau asbes
tidak cocok untuk rumah pedesan, juga menimbulkan suhu panas di dalam rumah.
a)
Ventilasi
Berdasarkan
peraturan mentri kesehatan RI nomor 829/ Menkes / VIII / 1999, tentang
ketentuan persyaratan kesehatan rumah tinggal secara umum penilaian ventilasi
rumah dapat di lakukan dengan cara melihat indikator penghawaan rumah, keluasan
ventilasi yang memenuhi syarat ksehatan adalah lebih dari sama dengan 10% dari
luas lantai rumah dan luas ventilasi
yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah kurang dari 10% dari luas lamtai
rumah.
Syarat ventilasi
yang baik adalah sebagai berikut ;
1)
Lubang-lubang ventilasi tetap min imal 5% dari luas
lantai ruangan, sedangkan luas lubang ventilasi insidentil (dapat di buka dan
di tutup0 minimal 5% dari luas lantai. Jumlah keduanya menjadi 10% dari luas
ruangan.
2)
Aliran udara di usahakan cross ventilasion dengan
menempatkan lubang ventilasi berhadapan antara dua dinding. Aliran udara ini
jangan sampai terhalang oleh barang-barang besar, misalnya lemari, dinding, ,
seakt dan lain –lain.
Ventilasi rumah mempunyai banyak
fungsi. Fungsi pertama adalah untuk menjaga agar aliran udara di dalam rumah
tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni
rumah tersebut tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan O2 (oksigen)
didalam rumah yang berarti kadar CO2 (karbondioksida) yang bersifat racun bagi
penghuninya menjadi meningkat. Tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan
kelembaban udara didalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan kulit
dan penyerapan. Kelembaban ini akan merupakan media yang baik untuk
bakteri-bakteri, patogen (bakteri-bakteri penyebab penyakit).
3) Kualitas
udara di dalam rumah tidak melebihi ketentuan sebagai berikut.
a.
Suhu udara nyaman berkisar 180-300 Celcius.
b.
Kelembaban udara berkisar antara 40%-70%.
c.
Konsentrasi gas CO2 tidak melebihi 0,10 ppm/24
jam.
d.
Pertukaran udara=5 kaki kubik per menit per
penghuni.
e.
Konsentrasi gas formaldehid tidak melebihi 120
mg/m3.
4) Pencahayaan
ü
Cahaya alamiah, yakni
matahari. Cahaya ini sangat penting karena dapat membunuh bakteri-bakteri
patogen didalam rumah, misalnya baksil TBC. Oleh karena itu, rumah yang sehat
harus mempunyai jalan masuk cahaya yang cukup. Seyogyanya jalan masuk cahaya
(jendela) luasnya sekurang-kurangnya 15-20 % dari luas lantai yang terdapat
dalam ruangan rumah. Sinar matahari dapat langsung masuk melalui jendela ke
dalam ruangan, tidak terhalang oleh bangunan lain. Lokasi penempatan jendela pun harus diperhatikan dan
diusahakan agar sinar matahari lama menyinari lantai (bukan menyinari dinding).
Jalan masuknya cahaya alamiah juga
diusahakan dengan genteng kaca.
ü
Cahaya buatan yaitu menggunakan
sumber cahaya yang bukan alamiah,
seperti lampu minyak tanah, listrik, api dan sebagainya.
5)
Kepadatan hunian rumah
Kepadatan hunian dalam rumah menurut
Keputusan Menteri Kesehatan RI No.829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan
rumah, kepadatan hunian ruang tidur minimal
luasnya 8m2 dan tidak dianjurkan digunakan
lebih dari 2 orang kecuali anak di bawah umur 5 tahun. Berdasarkan
kriteria tersebut diharapkan dapat mencegah penularan
penyakit dan melancarkan aktivitas. Keadaan tempat
tinggal yang padat dapat meningkatkan faktor polusi dalam rumah yang
telah ada.
6)
Faktor
Polusi
Menurut
Lamsidi ( 2003 ) Cerobong asap sering kita jumpai
diperusahaan atau pabrik-pabrik industri yang dibuat menjulang tinggi ke atas
(vertikal). Cerobong tersebut dibuat agar asap bisa keluar ke atas terbawa oleh
angin. Cerobong asap sebaiknya dibuat horizontal tidak lagi vertikal, sebab gas
(asap) yang dibuang melalui cerobong horizontal dan ke bak air akan mudah
larut. Setelah larut debu halus dan asap mudah dipisahkan, sementara air yang
asam bisa dinetralkan oleh media Treated
Natural Zeolid (TNZ) yang sekaligus bisa racun dan logam berat. Langkah
tersebut dilakukan supaya tidak akan ada lagi pencemaran udara, apalagi hujan
asam. Cerobong asap juga bisa berasal dari polusi rumah tangga, polusi rumah
tangga dapat dihasilkan oleh bahan bakar untuk memasak, bahan bakar untuk
memasak yang paling banyak menyebabkan asap adalah bahan bakar kayu atau
sejenisnya seperti arang.
Kriteria Rumah sehat yang di
tetapkan Depkes RI 2008 adalah
sebagai berikut ;
a)
Kering
Rumah dikondisikan
dengan membangun sistem bangunan yang dikonstruksi dengan lingkungan dalam
ruangan yang terkontrol. Bisa dilakukan dengan menjaga agar sistem saluran air,
saluran pembuangan terjaga dengan baik.Begitu pun masalah perembesan dan
kebocoran rumah, hendaknya diatur agar tidak terjadi.
b)
Bersih
Sistem bangunan yang
dimiliki memungkinkan agar rumah bebas kotoran, debu, asap serta kontaminan
lainnya. Rumah yang berada di dekat jalan raya jelas berbeda penangannya dengan
rumah yang ada di kompleks persawahan.
c)
Aman
Rumah hendaknya
dibangun dengan bentuk, fungsi, dan peralatan yang aman bagi penghuni. Konsep ergonomis
di setiap piranti hendaknya juga dipikirkan dengan matang. Sisi keamanan adalah
faktor yang penting, demi menghindari terjadinya kecelakaan di dalam maupun di
sekitar rumah.
d)
Bebas Kontaminasi
Gunakan cat rumah dan
produk-produk bangunan yang aman dan tidak mengganggu kesehatan. Jauhi
penggunaan formaldehida untuk meminimalisir kontaminasi anggota keluarga.
e)
Memiliki Ventilasi
Ventilasi berfungsi
untuk memperlancar pertukaran udara segar. Standardnya harus ada di setiap
ruangan.
f)
Bebas dari hewan pengganggu
Penghuni hendaknya
menjaga agar setiap sudut rumah bebas dari hewan pengganggu seperti tikus,
kecoa, cicak, dll. Hewan-hewan ini selalu berusaha untuk mencari makanan dan
sarang di dalam rumah sehingga anda harus benar-benar ekstra bekerja keras
untuk mengenyahkannya.
g)
Terawat
Rumah yang sehat
adalah rumah yang setiap elemennya terawat dan terpelihara dengan baik. Para
penghuni rumah hendaknya mengatur jadwal khusus untuk saling berbagi tugas
melakukan tugas ini demi kepentingan bersama.
C. Konsep Anak Usia Sekolah
1.
Definisi Anak Usia Sekolah
Menurut Wong (2009), usia sekolah adalah anak pada
usia 6-12 tahun, yang artinya sekolah menjadi pengalaman inti anak. Periode
ketika anak-anak dianggap mulai bertanggung jawab atas perilakunya sendiri
dalam hubungan dengan orang tua mereka, teman sebaya, dan orang lainnya. Usia
sekolah merupakan masa anak memperoleh dasar-dasar pengetahuan untuk
keberhasilan penyesuaian diri pada kehidupan dewasa dan memperoleh keterampilan
tertentu.
Anak sekolah dasar adalah anak yang berusia 6-12 tahun,
memiliki fisik lebih kuat mempunyai sifat individual serta aktif dan tidak
bergantung dengan orang tua. Banyak ahli menganggap masa ini sebagai masa
tenang atau masa latent, di mana apa yang telah terjadi dan dipupuk pada masa-masa
sebelumnya akan berlangsung terus untuk masa-masa selanjutnya. Dengan memasuki
SD salah satu hal penting yang perlu dimiliki anak dalam kematangan sekolah,
tidak saja meliputi kecerdasan dan ketrampilan motorik, bahasa, tetapi juga hal
lain seperti dapat menerima otoritas tokoh lain di luar orang tuanya, kesadaran
akan tugas, patuh pada peraturan dan dapat mengendalikan emosi-emosinya
(Gunarsa, 2006).
2.
Ciri-ciri Anak Usia Sekolah
Menurut Hurlock (2002), orang tua, pendidik, dan ahli
psikologis memberikan berbagai label kepada periode ini dan label-label itu
mencerminkan ciri-ciri penting dari periode anak usia sekolah, yaitu sebagai
berikut:
a.
Label yang digunakan oleh orang tua
1)
Usia yang menyulitkan
Suatu
masa dimana anak tidak mau lagi menuruti perintah dan dimana ia lebih banyak
dipengaruhi oleh teman-teman sebaya daripada oleh orang tua dan anggota
keluarga lainnya.
2)
Usia tidak rapi
Suatu
masa dimana anak cenderung tidak memperdulikan dan ceroboh dalam penampilan,
dan kamarnya sangat berantakan. Sekalipun ada peraturan keluarga yang ketat
mengenai kerapihan dan perawatan barang-barangnya, hanya beberapa saja yang
taat, kecuali kalau orang tua mengharuskan melakukannya dan mengancam dengan
hukuman.
b.
Label yang digunakan oleh para pendidik
1)
Usia sekolah dasar
Pada
usia tersebut anak diharapkan memperoleh dasar-dasar pengetahuan yang dianggap
penting untuk keberhasilan penyesuaian diri pada kehidupan dewasa, dan
mempelajari berbagai keterampilan penting tertentu, baik keterampilan kurikuler
maupun ekstra kurikuler.
2)
Periode kritis
Suatu
masa di mana anak membentuk kebiasaan untuk mencapai sukses, tidak sukses, atau
sangat sukses. Sekali terbentuk, kebiasaan untuk bekerja dibawah, diatas atau
sesuai dengan kemampuan cenderung menetap sampai dewasa.telah dilaporkan bahwa
tingkat perilaku berprestasi pada masa kanak-kanak mempunyai korelasi yang
tinggi dengan perilaku berprestasi pada masa dewasa.
c.
Label yang digunakan ahli psikologi
1)
Usia berkelompok
Suatu
masa di mana perhatian utama anak tertuju pada keinginan diterima oleh
teman-teman sebaya sebagai angota kelompok, terutama kelompok yang bergengsi
dalam pandangan teman-temannya. Oleh karena itu, anak ingin menyesuaikan dengan
standar yang disetujui kelompok dalam penampilan, berbicara, dan perilaku.
2)
Usia penyesuaian diri
Suatu
masa dimana perhatian pokok anak adalah dukungan dari teman-teman sebaya dan
keanggotaan dalam kelompok.
3)
Usia kreatif
Suatu
masa dalam rentang kehidupan dimana akan ditentukan apakah anak-anak menjadi
konformis atau pencipta karya yang baru yang orisinil. Meskipun dasar-dasar
untuk ungkapan kreatif diletakkan pada awal masa kanak-kanak, namun kemampuan
untuk menggunakan dasar-dasar ini dalam kegiatan-kegiatan orisinal pada umumnya
belum berkembang sempurna sebelum anak-anak belum mencapai tahun-tahun akhir
masa kanak-kanak.
4)
Usia bermain
Bukan
karena terdapat lebih banyak waktu untuk bermain daripada dalam periode-periode
lain hal mana tidak dimungkinkan lagi apabila anak-anak sudah sekolah melainkan
karena terdapat tumpang tindih antara ciri-ciri kegiatan bermain anak-anak yang
lebih muda dengan ciri-ciri bermain anak-anak remaja. Jadi alasan periode ini
disebut sebagai usia bermain adalah karena luasnya minat dan kegiatan bermain
dan bukan karena banyaknya waktu untuk bermain.
3.
Karakteristik
Anak Sekolah Dasar
Anak-anak usia sekolah ini memiliki karakteristik yang
berbeda dengan anak-anak yang usianya lebih muda. Mereka lebih senang bermain,
senag bergerak, senang bekerja dalam kelompok dan senang merasakan atau
melakukan sesuatu secara langsung.
Menurut
Havighurst dalam Desmita (2012), tugas perkembangan anak sekolah dasar meliputi
:
a.
Menguasai keterampilan fisik yang diperlukan dalam
permainan dan aktivitas fisik
b.
Membina hidup sehat
c.
Belajar bergaul dan bekerja dalam kelompok
d.
Belajar menjalankan peranan sosial sesuai dengan jenis
kelamin
e.
Belajar membaca, menulis dan berhitung agar mampu
berpartisipasi dalam masyarakat
f.
Memperoleh sejumlah konsep yang diperlukan untuk
berfikir efektif
g.
Mengembangkan kata hati, moral dan nilai-nilai
h.
Mencapai kemandirian pribadi.
4.
Karakteristik
Hubungan Anak Usia Sekolah dengan Keluarga
Masa usia
sekolah dipandang sebagai masa untuk pertama kalinya anak memulai kehidupan
social mereka yang sesungguhnya. Bersamaan dengan itu biasanya akan terjadi
perubahan hubungan anatra anak dengan orangtua, namun hubungan orang tua dan
anak akan berkembvang dengn baik apabila kedua pihak saling memupuk
keterbukaan. Perkembangan kognitif anak akan semakin matang pada usia sekolah,
anak-anak akan bengangsur-angsur lebih banyak mempelajari mengenai sikap-sikap
dan motivasi orangtuanya, serta memahami aturan-aturan keluarga, sehingga
mereka menjadi lebih mampu untuk mengendalikan tingkah laku. Menurut Seifert
& Hoffnung (1994) Perubahan ini mempunyai dampak yang besar terhadap
kualitas hubunagn antara anak usia sekolah dan orangtua mereka (Desmita, 2012).
5.
Faktor
individu anak dengan ISPA
Menurut Kartasasmita (2010:23) faktor risiko adalah
faktor atau keadaan yang mengakibatkan seorang anak rentan menjadi sakit
atau sakitnya menjadi berat. Berbagai faktor
risiko yang dapat meningkatkan kejadian, beratnya
penyakit, dan kematian karena pneumonia, yaitu status gizi (gizi kurang dan gizi buruk memperbesar risiko), pemberian ASI
(ASI eksklusif mengurangi risiko), suplementasi vitamin
A (mengurangi risiko), suplementasi zinc (mengurangi
risiko), bayi berat badan lahir rendah (meningkatkan risiko), dan polusi
udara dalam kamar terutama asap rokok dan
bakaran dari dapur (meningkatkan risiko).
a)
Umur anak
Sejumlah studi yang besar menunjukkan
bahwa insiden penyakit pernapasan oleh virus melonjak
pada bayi dan usia dini anak-anak dan tetap menurun
terhadap usia. Insiden ISPA tertinggi pada umur 6 –12 bulan.
b)
Berat badan lahir
Berat badan lahir menentukan pertumbuhan
dan perkembangan fisik dan mental pada masa balita. Bayi dengan berat badan
lahir rendah (BBLR) mempunyai risiko kematian yang lebih besar dibandingkan dengan
berat badan lahir normal, terutama
pada bulan-bulan pertama kelahiran karena pembentukan zat anti kekebalan kurang
sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit infeksi, terutama pneumonia dan
sakit saluran pernapasan lainnya terutama pada bulan-bulan pertama kelahiran
karena pembentukan zat anti kekebalan kurang sempurna sehingga lebih mudah
terkena penyakit infeksi, terutama pneumonia dan sakit saluran pernapasan
lainnya.
Penelitian
menunjukkan bahwa berat bayi kurang dari 2500 gram dihubungkan dengan meningkatnya kematian akibat infeksi
saluran pernafasan dan hubungan ini menetap setelah dilakukan adjusted
terhadap status pekerjaan, pendapatan, pendidikan. Data ini mengingatkan bahwa
anak-anak dengan riwayat berat badan lahir rendah tidak mengalami rate
lebih tinggi terhadap penyakit saluran pernapasan, tetapi mengalami lebih berat
infeksinya.
c) Setatus Gizi
Masukan
zat-zat
gizi yang diperoleh pada tahap pertumbuhan dan
perkembangan anak dipengaruhi oleh umur, keadaan fisik, kondisi kesehatannya, kesehatan fisiologis pencernaannya,
tersedianya makanan dan aktivitas dari anak itu
sendiri. Penilaian status gizi dapat dilakukan antara lain berdasarkan antopometri: berat badan lahir, panjang badan,
tinggi badan, lingkar lengan atas.
Keadaan
gizi
yang buruk muncul sebagai faktor risiko yang penting
untuk terjadinya ISPA. Beberapa penelitian telah membuktikan tentang
adanya hubungan antara gizi buruk dan infeksi
paru, sehingga anak-anak yang bergizi buruk sering
mendapat pneumonia. Selain itu adanya hubungan antara gizi buruk dan terjadinya campak dan infeksi virus berat lainnya serta
menurunnya daya tahan tubuh anak terhadap infeksi. Balita dengan gizi yang
kurang akan lebih mudah terserang ISPA dibandingkan balita dengan gizi normal
karena faktor daya tahan tubuh yang kurang. Penyakit Balita dengan gizi yang
kurang akan lebih mudah terserang ISPA dibandingkan balita dengan gizi normal
karena faktor daya tahan tubuh yang kurang.
d)
Vitamin A
Sejak tahun 1985 setiap enam bulan
Posyandu memberikan kapsul 200.000 IU vitamin A pada balita dari umur satu
sampai dengan empat tahun. Balita yang mendapat vitamin A lebih dari 6 bulan
sebelum sakit maupun yang tidak pernah mendapatkannya adalah sebagai risiko
terjadinya suatu penyakit sebesar 96,6% pada kelompok kasus dan 93,5% pada
kelompok kontrol.
Pemberian
vitamin
A yang dilakukan bersamaan dengan imunisasi akan
menyebabkan peningkatan titer antibodi yang spesifik dan tampaknya tetap berada dalam nilai yang cukup tinggi. Bila antibodi
yang ditujukan terhadap bibit penyakit dan bukan sekedar
antigen asing yang tidak berbahaya, maka dapat
diharapkan adanya perlindungan terhadap bibit penyakit yang bersangkutan
untuk jangka yang tidak terlalu singkat.
Oleh karena itu usaha massal pemberian
vitamin A dan imunisasi secara berkala terhadap anak-anak
prasekolah seharusnya tidak dilihat sebagai dua
kegiatan terpisah. Keduanya haruslah dipandang dalam suatu kesatuan yang utuh, yaitu meningkatkan daya tahan tubuh dan
perlindungan terhadap anak Indonesia sehingga mereka
dapat tumbuh, berkembang dan berangkat dewasa dalam keadaan yang baik.
e)
Status Imunisasi
Bayi dan balita yang pernah terserang
campak dan selamat akan mendapat kekebalan alami terhadap pneumonia sebagai
komplikasi campak. Sebagian besar kematian
ISPA berasal dari jenis ISPA yang berkembang dari penyakit yang dapat dicegah
dengan imunisasi seperti difteri, pertusis, campak, maka peningkatan cakupan
imunisasi akan berperan besar dalam upaya pemberantasan ISPA. Untuk mengurangi
faktor yang meningkatkan mortalitas ISPA, diupayakan imunisasi lengkap. Bayi
dan balita yang mempunyai status imunisasi lengkap bila menderita ISPA dapat
diharapkan perkembangan penyakitnya tidak akan menjadi lebih berat. Cara yang
terbukti paling efektif saat ini adalah dengan pemberian imunisasi campak dan
pertusis. Pemberian imunisasi campak efektif mencegah 11% kematian pneumonia
balita dan imunisasi pertusis mencegah 6% kematian pneumonia pada balita.
f)
Faktor perilaku
Faktor
perilaku
dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit ISPA
pada bayi dan balita dalam hal ini adalah praktek penanganan ISPA di
keluarga baik yang dilakukan oleh ibu ataupun
anggota keluarga lainnya. Keluarga merupakan unit
terkecil dari masyarakat yang berkumpul dan tinggal dalam suatu rumah tangga, satu dengan lainnya saling tergantung dan
berinteraksi. Bila salah satu atau beberapa anggota keluarga
mempunyai masalah kesehatan, maka akan berpengaruh
terhadap anggota keluarga lainnya.
Peran
aktif
keluarga dan masyarakat dalam menangani ISPA sangat
penting karena penyakit ISPA merupakan penyakit yang ada sehari-hari di
dalam masyarakat atau keluarga. Hal ini perlu
mendapat perhatian serius oleh kita semua karena penyakit ini banyak menyerang
balita, sehingga ibu balita dan anggota keluarga yang sebagian besar dekat
dengan balita mengetahui dan terampil menangani penyakit ISPA ini ketika
anaknya sakit.
Keluarga
juga perlu mengetahui serta mengamati tanda keluhan dini pneumonia dan kapan
mencari pertolongan dan rujukan pada sistem pelayanan kesehatan agar penyakit
anak balitanya tidak menjadi lebih berat. Berdasarkan hal tersebut dapat diartikan dengan jelas bahwa
peran keluarga dalam praktek penanganan dini bagi balita sakit ISPA sangatlah
penting, sebab bila praktek penanganan ISPA tingkat keluarga yang kurang atau
buruk akan berpengaruh pada perjalanan penyakit dari yang ringan menjadi
bertambah berat.
Dalam penanganan
ISPA tingkat keluarga keseluruhannya dapat digolongkan menjadi 3 (tiga)
kategori yaitu: perawatan penunjang oleh ibu balita, tindakan yang segera dan pengamatan
tentang perkembangan penyakit balita, dan pencarian
pertolongan pada pelayanan kesehatan.
g)
Tingkat Pendidikan Ibu yang Rendah
Pendidikan
adalah proses seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk
tingkah laku lainnya dalam masyarakat tempat ia hidup, proses sosial yakni
orang yang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan
terkontrol(khususnya yang datang dari sekolah), sehingga ia dapat memperoleh
atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang
optimal (Munib dkk, 2004:33).
Dalam
Slamet (2002:87), menyatakan bahwa kualitas pendidikan berbanding lurus dengan
pencegahan penyakit. Demikian juga dengan pendapatan, kesehatan lingkungan, dan
informasi yang dapat diperoleh tentang kesehatan. Semakin rendah pendidikan
ibu, semakin tinggi prevalensi ISPA pada balita (Kartasasmita, 2010:24).
h)
Tingkat Sosial Ekonomi yang Rendah
Bayi yang lahir di
keluarga yang tingkat sosial ekonominya rendah maka
pemenuhan kebutuhan gizi dan pengetahuan tentang kesehatannya juga rendah sehingga akan mudah terjadi penularan
penyakit termasuk ISPA (Slamet, 2002:13).
6. Merokok
sebagai Faktor Risiko
Tembakau sebagai bahan
baku pembuatan rokok
berada pada peringkat pertama penyebab kematian yang dapat
dicegah di dunia. Tembakau menyebabkan satu dari 10 kematian
orang dewasa di seluruh dunia, dan mengakibatkan 5,4
juta kematian pada tahun 2006. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata terjadi satu kematian setiap 6,5 detik. Jika hal
itu terus berlanjut, maka diperkirakan kematian pada
tahun 2020 akan mendekati dua kali jumlah kematian saat ini (Evy Rachmawati, 2008:2).
Merokok merupakan salah satu faktor risiko penting
untuk beberapa penyakit, diantaranya batuk menahun, penyakit menahun seperti
penyakit paru obstruktif menahun (PPOM), bronkhitis, dan empisema, ulkus
peptikum, infertiliti, gangguan kehamilan, artherosklerosis sampai penyakit
jantung koroner, beberapa jenis kanker seperti kanker mulut, kanker paru, dan
kanker sistem pernapasan lainnya (Buston, 2007:209).
Variabel merokok sebagai variabel independen
dalam suatu penelitian mempunyai variasi yang cukup luas dalam kaitannya dengan
dampak yang diakibatkannya. Oleh karena itu, paparan rokok perlu diidentifikasi
selengkapnya dari berbagai segi diantaranya:
a)
Jenis perokok: perokok aktif atau perokok pasif
b)
Jumlah rokok yang dihisap: dalam satu batang,
bungkus, atau pak perhari.
c)
Jenis rokok yang dihisap: keretek, cerutu atau
rokok putih, pakai filter atau tidak.
d)
Cara menghisap rokok: menghisap dangkal, di mulut
saja atau isap dalam.
e)
Alasan mulai merokok: sekedar ingin hebat,
ikut-ikutan, kesepian, pelarian, sebagai gaya, meniru orang tua.
f)
Umur mulai merokok: sejak umur 10 tahun atau
lebih.
Dalam melakukan aksinya, rokok bisa menjadi lebih agresif bila
ditemani faktor-faktor lain. Interaksi rokok dengan asbes dapat memberikan
peningkatan sepuluh kali terjadinya kanker paru. Rokok dan
hipertensi akan meningkat 2 kali lipat untuk penyakit jantung koroner (Buston,
2007:210). Berdasarkan hal tersebut
jenis perokok juga dapat dibagi atas perokok ringan
sampai berat, diantaranya :
ü Perokok ringan jika merokok kurang
dari 10 batang per hari.
ü Perokok sedang
jika menghisap rokok antara 10-20 batang per hari.
ü Perokok berat
jika merokok lebih dari 20 batang per hari.
D. Kerangka Teoritis
![]() |
|||||
|
|||||
Sumber ; menurut Kemenkes RI
2008, ( Notoadmojo, 2008 ), (Markamah tt. al 2012), (Achmad.
dkk, 2004:33) dan (Kartasasmita, 2010:24).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar