PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Penyakit ISPA (Infeksi saluran pernafasan akut) menyebabkan
4,25 juta kematian diseluruh dunia setiap tahun, ISPA juga merupakan penyebab
utama penyakit pada anak-anak dan pembunuh utama. 20 - 40% dari semua rawat
inap antara anak-anak adalah karena infeksi saluran pernapasan akut. Pneumonia menyebabkan hampir 1,6 juta
kematian pertahun pada anak balita dan anak-anak menjadi pembunuh global terbesar
dalam kelompok umur balita, World Health Organization (WHO,
2012).
Prevalensi kejadian ISPA di Indonesia adalah 25 % Riset
kesehatan dasar (Riskesdas, 2013). ISPA menyebabkan kematian bayi balita dan
anak-anak yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang terjadi.
Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya.Antara
40%-60% salah satu
penyebab ISPA pada anak yaitu sanitasi rumah yang tidak sehat (Depkes, 2008).
Menurut data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional
(SUSENAS, 2014) di Indonesia rumah sehat dibagi menjadi tiga kategori yaitu
kategori baik, kategori sedang dan kategori kurang. Persentase rumah sehat di
Indonesia kategori baik mencapai 35,3%, kategori sedang 39,8% dan kategori
kurang 24,9%. Target rumah sehat di Indonesia sebesar 80%, dari kategori rumah
sehat di atas tidak ada yang memenuhi target, sehingga rumah sehat di Indonesia
belum tercapai
(Kemenkes, 2012).
Data dari Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Subang, penyakit infeksi
saluran nafas merupakan satu dari dua penyakit infeksi yang masuk sebagai
penyebab kematian pada balita dan anak di Subang. Laporan dari berbagai sarana
pelayanan kesehatan pemerintah menunjukkan bahwa pada tahun 2013 dilaporkan
sebanyak 86% dengan ISPA pneumonia, pada tahun 2014 jumlah penduduk usia anak
152,207 dilaporkan terdapat 76% bukan penuoumonia dan pneumonia 34% kasus pada
usia > 5 tahun yang ditangani,
sedangkan pada tahun 2015 jumlah penduduk 1,524,670 dan usia anak 6-12 tahun
berjumlah 152467 ditemukan 88% kasus ISPA dan pneumonia 22% ( Dinkes Subang,
2015).
Hasil observasi awal di wilayah kerja Puskesmas Legonkulon pada bulan 01 Juli sampai 31 Novemeber 2015, dari hasil dokumentasi Puskesmas
Legonkulon kejadian ISPA pada anak 6 -12
tahun terdapat 125 dengan kejadian ISPA dan 33 kasus pnoumonia. Jumlah anak
usia 6-12 tahun terdapat 530 jiwa dari jumlah Kepala keluarga (KK) 426.
Observasi di perumahan juga di lakukan dan hasil pendataan ada 1804 KK dari jumlah penduduk
±5596 jiwa di desa Legonkulon yang memiliki rumah sebanyak 765 rumah, terdapat 574 tipe rumah sehat dan 191 rumah yang tidak sehat
yang beresiko timbulnya kejadian ISPA,
dan mengganggu kesehatan anak usia sekolah yang sedang aktifnya bermain.
Masih ditemukan rumah penduduk yang tidak permanen dan semi
permanen. Rumah yang tidak permanen diantaranya ditandai dengan seluruh
bangunan menggunakan bahan yang mudah terbakar seperti kayu dan bambu serta
lantai belum berubin, tingkat kebersihan kurang, pencahayan dan ventilasi
kurang dari <10% dari luas lantai.
Sementara untuk rumah semi permanen ditandai dengan bangunan rumah yang dinding
rumahnya baru sebagian menggunakan bahan yang tidak mudah terbakar (tembok).
Penduduk yang memiliki ternak seperti kambing dan ayam, umumnya menempatkan
kandangnya dekat rumah untuk keamanan, upaya
yang dilakukan petugas kesling di Puskesmas Legonkulon sudah melakukan upaya inspeksi sanitasi
pemukiman, inspeksi
sanitasi sarana umum, dan infeksi pemicuan dengan metode CLS dan penyuluhan.
Banyak
faktor yang mempengaruhi tingginya kejadian ISPA pada balita dan anak usia 6-12
tahun yakni faktor intrinsik (umur, statu gizi, status imunisasi, jenis
kelamin) dan faktor ekstrinsik (perumahan, lingkungan, sosial ekonomi,
pendidikan) (Muluki, 2008).
Berdasarkan data inilah maka
penulis tertarik melakukan penelitan untuk mengidentifikasi hubungan lingkungan
fisik rumah dengan kejadian ISPA pada anak usia sekolah dasar 6-12 tahun di desa Legonkulon.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang
diatas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana “Hubungan
lingkungan fisik rumah dengan kejadian ISPA pada anak usia sekolah dasar usia 6-12 tahun di desa Legonkulon wilayah
kerja Puskesmas Legonkulon Kabupaten Subang tahun 2015”.
C. Tujuan Penelitian
1.
Tujuan umum
Untuk mengetahui hubungan lingkungan fisik rumah dengan
kejadian ISPA pada anak usia sekolah dasar
usia 6-12 tahun di desa Legonkulon wilayah kerja Puskesmas Legonkulon
kabupaten Subang tahun 2015.
2.
Tujuan Khusus
a.
Mengetahui lingkungan fisik rumah di keluarahan Legonkulon
wilayah kerja Puskesmas Legonkulon Kabupaten Subang 2015.
b.
Mengetahui kejadian ISPA pada anak usia sekolah dasar 6 - 12
tahun di desa Legonkulon wilayah kerja Puskesmas Legonkulon kabupaten Subang
tahun 2015.
c.
Mengetahui hubungan antara Lingkungan fisik rumah dengan
kejadian ISPA di desa Legonkulon wilayah kerja Puskesmas Legonkulon kabupaten
Subang 2015.
D. Manfaat Penelitian
1.
Manfaat Teoritis
Dengan adanya penelitian ini diharapkan
bermanfaat untuk dapat memberikan
sumbangan ilmiah bagi perkembangan ilmu keperawatan anak dan keperawatan
komunitas.
2.
Manfaat Praktis
a)
Bagi Institusi Stikes prodi Keperawatan
Penelitian ini
diharapkan menjadi salah satu masukan untuk melakukan asuhan keperawatan
anak tentang hubungan lingkungan fisik rumah dengan kejadian ISPA pada anak usia 6-12 tahun.
b)
Bagi Puskesmas
Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan dalam meningkatkan
kinerja suatu program pelayanan kesehatan khususnya pelaksana Program pemberantasan penyakit
menular (P2M) dan informasi bagi tenaga kesehatan di Puskesmas Legonkulon untuk pembuat
kebijakan dan dapat memberikan penyuluhan kesehatan terkait dengan ISPA.
c)
Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu wawasan
dan menambah pengalaman dalam menerapkan ilmu yang didapat selama kuliah ke dalam
praktik nyata, sebagai bahan perbandingan dan informasi untuk
peneitian lebih lanjut tentang hubungan lingkungan fisik rumah dengan ISPA.
3.
Ruang Lingkup Penelitian
1.
Ruang lingkup waktu
Ruang
lingkup waktu yang dilaksanakanya mulai tanggal 01 November 2015 sampai tanggal 31 Januari 2016.
2.
Ruang Lingkup Tempat
Tempat
penelitian ini a dilaksanakan di Wilayah Legonkulon Kabupaten Subang tahun 2015
3.
Ruang lingkup materi
Penelitian ini mencakup materi tentang penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) anak dan faktor lingkungan fisik
rumah.
4.
Ruang Lingkup Metode
Penelitian ini merupakan hasil penelitian kuantitatif
dengan keluarahanin pendekatan korelasi cross sectional. Metode pengumpulan
data dengan menggunakan lembar observasi lingkungan fisik rumah standar
KEMENKES dan ISPA menggunakan lembar skrining form Puskesmas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar