FAKTOR LINGKUNGAN FISIK RUMAH YANG MEMPENGARUHI TINGGINYA KASUS KEJADIAN
ISPA PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR DI KELURAHAN LEGONKULON RT 06/04 WILAYAH KERJA PUSKESMAS LEGONKULON 2015
PROPOSAL PENELITIAN
Diajukan
Untuk Menyelesaikan Pendidikan
Program Studi
Strata-1 Keperawatan
DISUSUN OLEH :
MAS JATIM TOHA
NIM : 4002140099
PROGRAM
STUDI STRATA-1 KEPERAWATAN
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN DHARMA HUSADA
BANDUNG
2015
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Infeksi Saluran Pernapasan Akut merupakan masalah kesehatan yang penting karena
menjadi penyebab pertama kematian di Negara berkembang. Setiap tahun ada dua
juta kematian yang di sebabkan ISPA, WHO memperkirakan insidensi ISPA di negara berkembang 0,29% (151 jua jiwa). ISPA
menempati urutan pertama penyakit yang di derita oleh bayi dan balita di
Indonesia. Prevelensi ISPA di
Indonesia adalah 25,5% dengan morbiditas
Pneumonia pada bayi 2,2% dan Balita 3% sedangkan mortilitas pada bayi 23,8% dan balita 15,5% ( markamah et al.2012).
Infeksi
Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah kesehatan yang ada
di negara berkembang dan negara maju. Hal ini disebabkan karena masih tingginya
angka kesakitan dan angka kematian karena ISPA khususnya pneumonia, terutama
pada bayi dan balita. Di Amerika pneumonia
menempati peringkat ke-6 dari semua penyebab kematian dan peringkat pertama
dari seluruh penyakit infeksi. Di Spanyol angka kematian akibat pneumonia mencapai 25%, sedangkan di
Inggris dan Amerika sekitar 12% atau 25-30 per 100.000 penduduk (Heriana, et.al,
2005).
Sedangkan
untuk angka kematian akibat ISPA dan Pneumonia
pada tahun 1999 untuk negara Jepang yaitu 10%, Singapura sebesar 10,6%,
Thailand sebesar 4,1%, Brunei sebesar 3,2% dan Philipina tahun 1995 sebesar
11,1% (SEAMIC Health Statistics, 2000).
Penyakit
ISPA menyebabkan 4,25 juta kematian di seluruh dunia setiap tahun, ISPA juga
merupakan penyebab utama penyakit pada anak-anak dan pembunuh utama. 20-40%
dari semua rawat inap antara anak-anak adalah karena infeksi saluran pernapasan
akut. Pneumonia menyebabkan hampir
1,6 juta kematian pertahun pada anak balita dan menjadi pembunuh global terbesar dalam kelompok
umur balita (WHO, 2012).
ISPA
menyebabkan 40% dari kematian anak usia 1 bulan sampai 4 tahun. Hal ini berarti
dari seluruh jumlah anak umur 1 bulan sampai 4 tahun yang meninggal, lebih dari
sepertiganya meninggal karena ISPA atau diantara 10 kematian 4 diantaranya
meninggal disebabkan oleh ISPA (Depkes, 1985). Sebagian besar hasil penelitian
di negara berkembang menunjukkan bahwa 20-35% kematian bayi dan anak balita
disebabkan oleh ISPA. Diperkirakan bahwa 2-5 juta bayi dan balita di berbagai
negara setiap tahun mati karena ISPA (WHO, 1986)
Di
Indonesia, ISPA masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang
utama terutama pada bayi (0-11 bulan) dan balita (1-4 tahun). Diperkirakan
kejadian ISPA pada balita di Indonesia yaitu sebesar 10-20%. Berdasarkan hasil
SKRT, penyakit ISPA pada tahun 1986 berada di urutan ke-4 (12,4%) sebagai
penyebab kematian bayi. Sedangkan pada tahun 1992 dan 1995 menjadi penyebab
kematian bayi yang utama yaitu 37,7% dan 33,5% (Depkes RI, 2001). Hasil SKRT
pada tahun 1998 juga menunjukkan bahwa penyakit ISPA merupakan penyebab
kematian utama pada bayi (36%). Dan hasil SKRT pada tahun 2001 menunjukkan
bahwa prevalensi tinggi ISPA yaitu sebesar 39% pada bayi dan 42% pada balita
(Depkes RI, 2001).
Berdasarkan
hasil laporan RISKESDAS pada tahun 2007, prevalensi ISPA tertinggi terjadi pada
baduta (>35%), ISPA cenderung terjadi lebih tinggi pada kelompok dengan
pendidikan dan tingkat pengeluaran rumah tangga yang rendah. Di Jawa Barat kejadian
ISPA berada di angka 24,73%, untuk daerah Jawa Tengah sebesar 29,08. ISPA merupakan salah
satu penyebab utama kunjungan pasien ke sarana kesehatan. Dari angka-angka di
rumah sakit Indonesia didapat bahwa 40% sampai 70% anak yang berobat ke rumah
sakit adalah penderita ISPA (Depkes, 1985). Sebanyak 40-60% kunjungan pasien
ISPA berobat ke puskesmas dan 15-30% kunjungan pasien ISPA berobat ke bagian
rawat jalan dan rawat inap rumah sakit (Depkes RI, 2000).
Ada
banyak faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit ISPA baik secara langsung
maupun tidak langsung. Menurut Sutrisna (1993) faktor risiko yang menyebabkan
ISPA pada balita adalah sosio-ekonomi (pendapatan, perumahan, pendidikan orang
tua), status gizi, tingkat pengetahuan ibu dan faktor lingkungan (kualitas
udara). Sedangkan Depkes (2002) menyebutkan bahwa faktor penyebab ISPA pada
balita adalah berat badan bayi rendah (BBLR), status gizi buruk, imunisasi yang
tidak lengkap, kepadatan tempat tinggal dan lingkungan fisik.
Lingkungan yang berpengaruh dalam proses terjadinya ISPA
adalah lingkungan perumahan, dimana kualitas rumah berdampak terhadap kesehatan
anggotanya. Kualitas rumah dapat dilihat dari jenis atap, jenis lantai, jenis
dinding, kepadatan hunian dan jenis bahan bakar masak yang dipakai.
Faktor-faktor di atas diduga sebagai penyebab terjadinya ISPA (Depkes RI,
2003c).
ISPA (Infeksi
Saluran Pernafan Akut ) adalah infeksi akut yang melibatkan organ saluran
pernafasan bagian atas dan bagian saluran pernafasan bawah. Infeksi ini di
akibatkan virus, Jamur dan bakteri
(markamah. Et al.2012)
Penelitian
Sumargono (1989) di Jakarta membuktikan bahwa pendidikan ibu, gizi balita,
imunisasi, umur balita dan pendapatan keluarga mempengaruhi terhadap terjadinya
kejadian ISPA ringan, sedangkan kepadatan hunian berpengaruh terhadap
terjadinya ISPA sedang. Hasil penelitian Riswandri (2002) membuktikan bahwa
bapak, kebiasaan membuka jendela rumah, jumlah anggota keluarga dan letak
ternak kandang berhubungan dengan kejadian ISPA di Kecamatan Parung-Jawa Barat.
Menurut Abdullah (2003), faktor risiko terjadinya ISPA pada bayi umur 0-4 bulan
adalah berat badan lahir (BBL), status gizi, pemberian ASI, pendidikan ibu,
kepadatan hunian, keadaan ventilasi, asap pembakaran, asap rokok dan letak
dapur. Penelitian Riza (2005) membuktikan bahwa jenis lantai rumah berhubungan
dengan kejadian ISPA pada balita di Kabupaten Bekasi, sedangkan penelitian
Desmon (2002) di Sumatera Barat membuktikan bahwa jenis atap dan kepadatan
hunian berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita.
Kejadian
ISPA di Legonkulon pada anak berada di urutan
pertama dibandingkan penyakit lainnya. Hal ini dapat dilihat pada tahun 2015, kejadian ISPA pada
pasien rawat jalan anak usia (29 hari - < 1 tahun) di Puskesmas Legonkulon
sebesar 20,35%, sedangkan untuk pasien
rawat jalan anak usia (6-11
tahun) yang menderita ISPA sebesar 40,68%, kunjungan pasien rawat inap usia 6-11 tahun sbesar 20%. Berdasarkan data Profil
Puskesmas Legonkulon, menunjukkan bahwa ISPA merupakan penyakit infeksi yang
paling sering diderita oleh masyaraat khususnya kelompok bayi dan anak-anak.
ISPA menempati urutan pertama dalam daftar sepuluh bessar penyakit tertinggi pada
kelompok umur 1-11
tahun di Wilayah kerja Puskesmas Legonkulon dengan persentase sebesar 40,68%.
Begitu pula pada kelompok umur 12- 40 tahun, penyakit ISPA
pun menempati urutan pertama dari sepuluh penyakit yang diderita yaitu sebesar
28,33%. Berdasarkan data inilah maka penulis melakukan analisis dari data sekunder
untuk melihat faktor gejala ISPA ringan pada anak usia sekolah di Kelurahan
Legonkulon Kota Subang.
Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah kesehatan yang ada di
negara berkembang dan negara maju termasuk. Hal ini disebabkan karena masih
tingginya angka kesakitan dan angka kematian karena ISPA khususnya pneumonia,
terutama pada bayi dan balita. Kejadian ISPA dipengaruhi oleh banyak faktor
antara lain yaitu sosio-ekonomi (pendapatan, perumahan, pendidikan orang tua),
status gizi, tingkat pengetahuan ibu dan faktor lingkungan (kualitas udara),
berat badan bayi rendah (BBLR), imunisasi yang tidak lengkap, kepadatan tempat
tinggal dan lingkungan fisik.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
data inilah maka penulis melakukan analisis dari data sekunder untuk melihat Faktor Lingkungan
Fisik Rumah Yang Mempengaruhi Angka Kejadian ISPA
Akut Pada
Anak Usia Sekolah Dasar
di Kelurahan Legonkulon Kota Subang
tahun 2015. Bagaimana gambaran
gejala ISPA akut
di Kelurahan Legonkulon Kota Subang Tahun 2015?
a) Bagaimana
gambaran karakteristik anak usia sekolah (umur, jenis kelamin, pendidikan, pola asuh, keadaan lingkungan)
di Kelurahan Legonkulon Kota
Subang Tahun 2015?
b) Bagaimana
gambaran lingkungan fisik rumah (cara pembuangan sampah, ventilasi udara,
kebersihan lantai, jamban, kamar mandi dan pekarangan) di Kelurahan Legonkulon
Kota Subang Tahun 2015?
c) Bagaimana karakteristik keluarga
(pengetahuan anggota keluarga
yang merokok) dalam ruangan/rumah di Kelurahan
Legonkulon Kota Subang Tahun 2015?
d) Bagaimana
keadaan lingkungan fisik rumah
(cara pembuangan sampah, ventilasi udara, kebersihan lantai, jamban, kamar
mandi dan pekarangan) dengan gejala ISPA ringan pada baduta di Kelurahan
Legonkulon Kota Subang Tahun 2015?
e) Bagaimana faktor keluarga yang mempengaruhi
(pengetahuan anggota keluarga
yang merokok) dalam ruangan/rumah di Kelurahan
Legonkulon Kota Subang Tahun 2015?
C.
Tujuan Penelitian
1. Tujuan
umum
Diketahuinya Faktor Lingkungan Fisik Rumah Yang Mempengaruhi
Terjadinya ISPA Pada Anak Usia Sekolah Dasar Di Kelurahan Legonkulon RT 06/RW
04 Wilayah Kerja Puskesmas Legonkulon Subang Tahun 2015.
2. Tujuan
Khusus
a) Mengetahui gambaran karakteristik
anak usia sekolah (umur,
jenis kelamin, pendidikan, pola asuh, keadaan lingkungan)
di Kelurahan Legonkulon Kota Subang Tahun 2015?
b) Mengetahui bagaimana gambaran
lingkungan fisik rumah (cara pembuangan sampah, ventilasi udara, kebersihan
lantai, jamban, kamar mandi dan pekarangan) di Kelurahan Legonkulon Kota Subang
Tahun 2015?
c) Mengetahui karakteristik keluarga
(pengetahuan anggota keluarga yang merokok) dalam ruangan/rumah di Kelurahan
Legonkulon Kota Subang Tahun 2015?
d) Mengetahui frekuensi angka kejadian ISPA di kelurahan
Legonkulon di Rt 06/Rw 04 ?
D. Manfaat
Penelitian
a.
Bagi
bidang ilmu keperawatan
Sebagai
sumber masukan bagi bidang ilmu keperawatan Komunitas, asuhan keperawatan
tentang Faktor Lingkungan Fisik Rumah Yang Mempengaruhi
Terjadinya ISPA Pada Anak Usia Sekolah Dasar Di Kelurahan Legonkulon RT 06/RW
04 Wilayah Kerja Puskesmas Legonkulon Subang Tahun 2015 dan dapat
dijadikan sebagai bahan acuan untuk melakukan penelitian selanjutnya yang lebih
mendalam.
b.
Institusi
Pelayanan / Puskesmas Legonkulon
Sebagai
masukan dan informasi bagi institusi dan tenaga kesehatan di Puskesmas Legonkulon dan
Dapat menjadi masukan kepada pembuat kebijakan
pelaksana program BOK Penanganan
ISPA dini berkaitan dengan intervensi penyakit
ISPA khususnya pada anak usia sekolah
terutama Kelurahan Legonkulon RT 06/RW 04 Kota
Subang Tahun 2015, memberikan informasi
kepada masyarakat tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya
penyakit ISPA pada anak usia sekolah dan dapat mencegah kejadian lebih lanjut.
c.
Bagi
Penelitian Keperawatan
Hasil penelitian
ini dapat menambah wawasan dan memperluas pengetahuan tentang faktor lainnya yang menimbulkan gejala ISPA ringan. Dapat di gunakan juga sebagai bahan perbandingan dan
informasi untuk peneitian lebih lanjut tentang Faktor lingkungan lainya.
E.
Ruang Lingkup Penelitian
a) Ruang
lingkup waktu
Waktu yang akan dilaksanakanya untuk
penelitian selama..... dari tangga...-...-....-2015 sampai tanggal .....
-....-2015, untuk menggali data dari responden dengan
instrumen penelitian yang berupa lembar kuisioner dan wawancara langsung dengan
responden.
b) Ruang Lingkup Tempat
Populasi
penelitian adalah sasaran pemukiman
warga dan pada anak usia sekolah di Kelurahan Legonkulon
Kota Subang Tahun 2015. dengan gejala ISPA ringan pada anak usia sekolah di Kelurahan
Legonkulon Rt06/Rw04
Kota Subang Tahun 2015.
c) Ruang
lingkup materi
Penelitian ini merupakan hasil
penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Data yang digunakan
adalah data sekunder hasil laporan Perkesmas
tahun 2015 yang merupakan data dasar karakteristik anak usia sekolah.
Hubungan yang diteliti adalah karakteristik
anak usia sekolah yang terdiri (umur anak, jenis kelamin, status gizi, asupan gizi, pola asuh dan kondisi lingkungan
sekitar), karakteristik keluarga (pengetahuan
anggota keluarga yang merokok) serta lingkungan
fisik rumah (cara pembuangan sampah, ventilasi udara, kebersihan lantai,
jamban, kamar mandi dan pekarangan) Mengetahui
karakteristik keluarga (pengetahuan anggota keluarga yang merokok) dalam
ruangan/rumah di Kelurahan Legonkulon Kota Subang Tahun 2015. Mengetahui frekuensi angka kejadian ISPA di kelurahan
Legonkulon di Rt 06/Rw 04.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar