Kamis, 03 September 2015

Skripsi penelitian keperawatan komunitas




FAKTOR LINGKUNGAN FISIK RUMAH YANG MEMPENGARUHI TINGGINYA KASUS KEJADIAN ISPA PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR DI KELURAHAN LEGONKULON RT 06/04 WILAYAH  KERJA PUSKESMAS LEGONKULON 2015

PROPOSAL PENELITIAN
Diajukan Untuk Menyelesaikan Pendidikan
Program Studi Strata-1 Keperawatan

DISUSUN OLEH :
MAS JATIM TOHA
NIM : 4002140099







PROGRAM STUDI STRATA-1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DHARMA HUSADA
BANDUNG
2015






BAB 1
  PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Infeksi Saluran Pernapasan Akut merupakan masalah kesehatan yang penting karena menjadi penyebab pertama kematian di Negara berkembang. Setiap tahun ada dua juta kematian yang di sebabkan ISPA, WHO memperkirakan insidensi ISPA di negara berkembang 0,29% (151 jua jiwa). ISPA menempati urutan pertama penyakit yang di derita oleh bayi dan balita di Indonesia. Prevelensi ISPA di Indonesia adalah 25,5% dengan morbiditas Pneumonia pada bayi 2,2% dan Balita 3% sedangkan mortilitas pada bayi 23,8% dan balita 15,5% ( markamah et al.2012).
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah kesehatan yang ada di negara berkembang dan negara maju. Hal ini disebabkan karena masih tingginya angka kesakitan dan angka kematian karena ISPA khususnya pneumonia, terutama pada bayi dan balita. Di Amerika pneumonia menempati peringkat ke-6 dari semua penyebab kematian dan peringkat pertama dari seluruh penyakit infeksi. Di Spanyol angka kematian akibat pneumonia mencapai 25%, sedangkan di Inggris dan Amerika sekitar 12% atau 25-30 per 100.000 penduduk (Heriana, et.al, 2005).
Sedangkan untuk angka kematian akibat ISPA dan Pneumonia pada tahun 1999 untuk negara Jepang yaitu 10%, Singapura sebesar 10,6%, Thailand sebesar 4,1%, Brunei sebesar 3,2% dan Philipina tahun 1995 sebesar 11,1% (SEAMIC Health Statistics, 2000).
Penyakit ISPA menyebabkan 4,25 juta kematian di seluruh dunia setiap tahun, ISPA juga merupakan penyebab utama penyakit pada anak-anak dan pembunuh utama. 20-40% dari semua rawat inap antara anak-anak adalah karena infeksi saluran pernapasan akut. Pneumonia menyebabkan hampir 1,6 juta kematian pertahun pada anak balita dan menjadi pembunuh global terbesar dalam kelompok umur balita (WHO, 2012).
ISPA menyebabkan 40% dari kematian anak usia 1 bulan sampai 4 tahun. Hal ini berarti dari seluruh jumlah anak umur 1 bulan sampai 4 tahun yang meninggal, lebih dari sepertiganya meninggal karena ISPA atau diantara 10 kematian 4 diantaranya meninggal disebabkan oleh ISPA (Depkes, 1985). Sebagian besar hasil penelitian di negara berkembang menunjukkan bahwa 20-35% kematian bayi dan anak balita disebabkan oleh ISPA. Diperkirakan bahwa 2-5 juta bayi dan balita di berbagai negara setiap tahun mati karena ISPA (WHO, 1986)
Di Indonesia, ISPA masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama terutama pada bayi (0-11 bulan) dan balita (1-4 tahun). Diperkirakan kejadian ISPA pada balita di Indonesia yaitu sebesar 10-20%. Berdasarkan hasil SKRT, penyakit ISPA pada tahun 1986 berada di urutan ke-4 (12,4%) sebagai penyebab kematian bayi. Sedangkan pada tahun 1992 dan 1995 menjadi penyebab kematian bayi yang utama yaitu 37,7% dan 33,5% (Depkes RI, 2001). Hasil SKRT pada tahun 1998 juga menunjukkan bahwa penyakit ISPA merupakan penyebab kematian utama pada bayi (36%). Dan hasil SKRT pada tahun 2001 menunjukkan bahwa prevalensi tinggi ISPA yaitu sebesar 39% pada bayi dan 42% pada balita (Depkes RI, 2001).
Berdasarkan hasil laporan RISKESDAS pada tahun 2007, prevalensi ISPA tertinggi terjadi pada baduta (>35%), ISPA cenderung terjadi lebih tinggi pada kelompok dengan pendidikan dan tingkat pengeluaran rumah tangga yang rendah. Di Jawa Barat kejadian ISPA berada di angka 24,73%, untuk daerah Jawa Tengah sebesar 29,08. ISPA merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien ke sarana kesehatan. Dari angka-angka di rumah sakit Indonesia didapat bahwa 40% sampai 70% anak yang berobat ke rumah sakit adalah penderita ISPA (Depkes, 1985). Sebanyak 40-60% kunjungan pasien ISPA berobat ke puskesmas dan 15-30% kunjungan pasien ISPA berobat ke bagian rawat jalan dan rawat inap rumah sakit (Depkes RI, 2000).
Ada banyak faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit ISPA baik secara langsung maupun tidak langsung. Menurut Sutrisna (1993) faktor risiko yang menyebabkan ISPA pada balita adalah sosio-ekonomi (pendapatan, perumahan, pendidikan orang tua), status gizi, tingkat pengetahuan ibu dan faktor lingkungan (kualitas udara). Sedangkan Depkes (2002) menyebutkan bahwa faktor penyebab ISPA pada balita adalah berat badan bayi rendah (BBLR), status gizi buruk, imunisasi yang tidak lengkap, kepadatan tempat tinggal dan lingkungan fisik.
Lingkungan  yang berpengaruh dalam proses terjadinya ISPA adalah lingkungan perumahan, dimana kualitas rumah berdampak terhadap kesehatan anggotanya. Kualitas rumah dapat dilihat dari jenis atap, jenis lantai, jenis dinding, kepadatan hunian dan jenis bahan bakar masak yang dipakai. Faktor-faktor di atas diduga sebagai penyebab terjadinya ISPA (Depkes RI, 2003c).
ISPA (Infeksi Saluran Pernafan Akut ) adalah infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernafasan bagian atas dan bagian saluran pernafasan bawah. Infeksi ini di akibatkan virus, Jamur dan bakteri (markamah. Et al.2012)
Penelitian Sumargono (1989) di Jakarta membuktikan bahwa pendidikan ibu, gizi balita, imunisasi, umur balita dan pendapatan keluarga mempengaruhi terhadap terjadinya kejadian ISPA ringan, sedangkan kepadatan hunian berpengaruh terhadap terjadinya ISPA sedang. Hasil penelitian Riswandri (2002) membuktikan bahwa bapak, kebiasaan membuka jendela rumah, jumlah anggota keluarga dan letak ternak kandang berhubungan dengan kejadian ISPA di Kecamatan Parung-Jawa Barat. Menurut Abdullah (2003), faktor risiko terjadinya ISPA pada bayi umur 0-4 bulan adalah berat badan lahir (BBL), status gizi, pemberian ASI, pendidikan ibu, kepadatan hunian, keadaan ventilasi, asap pembakaran, asap rokok dan letak dapur. Penelitian Riza (2005) membuktikan bahwa jenis lantai rumah berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita di Kabupaten Bekasi, sedangkan penelitian Desmon (2002) di Sumatera Barat membuktikan bahwa jenis atap dan kepadatan hunian berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita.
Kejadian ISPA di Legonkulon pada anak berada di urutan pertama dibandingkan penyakit lainnya. Hal ini dapat dilihat pada tahun 2015, kejadian ISPA pada pasien rawat jalan anak usia (29 hari - < 1 tahun) di Puskesmas Legonkulon sebesar 20,35%, sedangkan untuk pasien rawat jalan anak usia (6-11 tahun) yang menderita ISPA sebesar 40,68%, kunjungan pasien rawat inap usia 6-11 tahun sbesar 20%. Berdasarkan data Profil Puskesmas Legonkulon, menunjukkan bahwa ISPA merupakan penyakit infeksi yang paling sering diderita oleh masyaraat khususnya kelompok bayi dan anak-anak. ISPA menempati urutan pertama dalam daftar sepuluh bessar penyakit tertinggi pada kelompok umur 1-11 tahun di Wilayah kerja Puskesmas Legonkulon dengan persentase sebesar 40,68%. Begitu pula pada kelompok umur 12- 40 tahun, penyakit ISPA pun menempati urutan pertama dari sepuluh penyakit yang diderita yaitu sebesar 28,33%. Berdasarkan data inilah maka penulis melakukan analisis dari data sekunder untuk melihat faktor gejala ISPA ringan pada anak usia sekolah di Kelurahan Legonkulon Kota Subang.
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah kesehatan yang ada di negara berkembang dan negara maju termasuk. Hal ini disebabkan karena masih tingginya angka kesakitan dan angka kematian karena ISPA khususnya pneumonia, terutama pada bayi dan balita. Kejadian ISPA dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain yaitu sosio-ekonomi (pendapatan, perumahan, pendidikan orang tua), status gizi, tingkat pengetahuan ibu dan faktor lingkungan (kualitas udara), berat badan bayi rendah (BBLR), imunisasi yang tidak lengkap, kepadatan tempat tinggal dan lingkungan fisik.

B.     Rumusan Masalah
            Berdasarkan data inilah maka penulis melakukan analisis dari data sekunder untuk melihat Faktor  Lingkungan Fisik Rumah Yang Mempengaruhi Angka Kejadian ISPA Akut  Pada Anak Usia Sekolah Dasar di Kelurahan Legonkulon Kota Subang tahun 2015. Bagaimana gambaran gejala ISPA akut di Kelurahan Legonkulon Kota Subang Tahun 2015?
a)    Bagaimana gambaran karakteristik anak usia sekolah (umur, jenis kelamin, pendidikan, pola asuh, keadaan lingkungan) di Kelurahan Legonkulon Kota Subang Tahun 2015?
b)   Bagaimana gambaran lingkungan fisik rumah (cara pembuangan sampah, ventilasi udara, kebersihan lantai, jamban, kamar mandi dan pekarangan) di Kelurahan Legonkulon Kota Subang Tahun 2015?
c)    Bagaimana karakteristik keluarga (pengetahuan anggota keluarga yang merokok) dalam ruangan/rumah di Kelurahan Legonkulon Kota Subang Tahun 2015?
d)   Bagaimana keadaan lingkungan fisik rumah (cara pembuangan sampah, ventilasi udara, kebersihan lantai, jamban, kamar mandi dan pekarangan) dengan gejala ISPA ringan pada baduta di Kelurahan Legonkulon Kota Subang Tahun 2015?
e)    Bagaimana faktor keluarga yang mempengaruhi (pengetahuan anggota keluarga yang merokok) dalam ruangan/rumah di Kelurahan Legonkulon Kota Subang Tahun 2015?

C.    Tujuan Penelitian
1.      Tujuan umum
Diketahuinya Faktor Lingkungan Fisik Rumah Yang Mempengaruhi Terjadinya ISPA Pada Anak Usia Sekolah Dasar Di Kelurahan Legonkulon RT 06/RW 04 Wilayah Kerja Puskesmas Legonkulon Subang Tahun 2015.

2.      Tujuan Khusus
a)      Mengetahui gambaran karakteristik anak usia sekolah (umur, jenis kelamin, pendidikan, pola asuh, keadaan lingkungan) di Kelurahan Legonkulon Kota Subang Tahun 2015?
b)      Mengetahui bagaimana gambaran lingkungan fisik rumah (cara pembuangan sampah, ventilasi udara, kebersihan lantai, jamban, kamar mandi dan pekarangan) di Kelurahan Legonkulon Kota Subang Tahun 2015?
c)      Mengetahui karakteristik keluarga (pengetahuan anggota keluarga yang merokok) dalam ruangan/rumah di Kelurahan Legonkulon Kota Subang Tahun 2015?
d)     Mengetahui frekuensi angka kejadian ISPA di kelurahan Legonkulon di Rt 06/Rw 04 ?

D.     Manfaat Penelitian
a.       Bagi bidang ilmu keperawatan
Sebagai sumber masukan bagi bidang ilmu keperawatan Komunitas, asuhan keperawatan tentang Faktor Lingkungan Fisik Rumah Yang Mempengaruhi Terjadinya ISPA Pada Anak Usia Sekolah Dasar Di Kelurahan Legonkulon RT 06/RW 04 Wilayah Kerja Puskesmas Legonkulon Subang Tahun 2015 dan dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk melakukan penelitian selanjutnya yang lebih mendalam.
b.      Institusi Pelayanan / Puskesmas Legonkulon
Sebagai masukan dan informasi bagi institusi dan tenaga kesehatan di Puskesmas Legonkulon dan Dapat menjadi masukan kepada pembuat kebijakan pelaksana program BOK Penanganan ISPA dini berkaitan dengan intervensi penyakit ISPA khususnya pada anak usia sekolah terutama Kelurahan Legonkulon RT 06/RW 04 Kota Subang Tahun 2015, memberikan informasi kepada masyarakat tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit ISPA pada anak usia sekolah dan dapat mencegah kejadian lebih lanjut.
c.       Bagi Penelitian Keperawatan
Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dan memperluas pengetahuan tentang  faktor lainnya yang menimbulkan gejala ISPA ringan. Dapat di gunakan juga sebagai bahan perbandingan dan informasi untuk peneitian lebih lanjut tentang Faktor lingkungan lainya.

E.     Ruang Lingkup Penelitian
a)      Ruang lingkup waktu
Waktu yang akan dilaksanakanya untuk penelitian selama..... dari tangga...-...-....-2015 sampai tanggal ..... -....-2015, untuk menggali data dari responden dengan instrumen penelitian yang berupa lembar kuisioner dan wawancara langsung dengan responden.

b)      Ruang Lingkup Tempat
Populasi penelitian adalah sasaran pemukiman warga dan pada anak usia sekolah di Kelurahan Legonkulon Kota Subang Tahun 2015. dengan gejala ISPA ringan pada anak usia sekolah di Kelurahan Legonkulon Rt06/Rw04 Kota Subang Tahun 2015.

c)      Ruang lingkup materi
Penelitian ini merupakan hasil penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Data yang digunakan adalah data sekunder hasil laporan Perkesmas tahun 2015 yang merupakan data dasar karakteristik anak usia sekolah.
Hubungan yang diteliti adalah karakteristik anak usia sekolah yang terdiri (umur anak, jenis kelamin, status gizi, asupan gizi, pola asuh dan kondisi lingkungan sekitar), karakteristik keluarga (pengetahuan anggota keluarga yang merokok) serta lingkungan fisik rumah (cara pembuangan sampah, ventilasi udara, kebersihan lantai, jamban, kamar mandi dan pekarangan) Mengetahui karakteristik keluarga (pengetahuan anggota keluarga yang merokok) dalam ruangan/rumah di Kelurahan Legonkulon Kota Subang Tahun 2015. Mengetahui frekuensi angka kejadian ISPA di kelurahan Legonkulon di Rt 06/Rw 04.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar