Sabtu, 27 Februari 2016

bab 1



BAB I

                        PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Penelitian

Penyakit ISPA (Infeksi saluran pernafasan akut) menyebabkan 4,25 juta kematian diseluruh dunia setiap tahun, ISPA juga merupakan penyebab utama penyakit pada anak-anak dan pembunuh utama. 20 - 40% dari semua rawat inap antara anak-anak adalah karena infeksi saluran pernapasan akut. Pneumonia menyebabkan hampir 1,6 juta kematian pertahun pada anak balita dan anak-anak menjadi pembunuh global terbesar dalam kelompok umur balita,  World Health Organization (WHO, 2012).
Prevalensi kejadian ISPA di Indonesia adalah 25 % Riset kesehatan dasar (Riskesdas, 2013). ISPA menyebabkan kematian bayi balita dan anak-anak yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang terjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya.Antara 40%-60% salah satu penyebab ISPA pada anak yaitu sanitasi rumah yang tidak sehat (Depkes, 2008).
 Menurut data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS, 2014) di Indonesia rumah sehat dibagi menjadi tiga kategori yaitu kategori baik, kategori sedang dan kategori kurang. Persentase rumah sehat di Indonesia kategori baik mencapai 35,3%, kategori sedang 39,8% dan kategori kurang 24,9%. Target rumah sehat di Indonesia sebesar 80%, dari kategori rumah sehat di atas tidak ada yang memenuhi target, sehingga rumah sehat di Indonesia belum tercapai (Kemenkes, 2012).
Data dari Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Subang, penyakit infeksi saluran nafas merupakan satu dari dua penyakit infeksi yang masuk sebagai penyebab kematian pada balita dan anak di Subang. Laporan dari berbagai sarana pelayanan kesehatan pemerintah menunjukkan bahwa pada tahun 2013 dilaporkan sebanyak 86% dengan ISPA pneumonia, pada tahun 2014 jumlah penduduk usia anak 152,207 dilaporkan terdapat 76% bukan penuoumonia dan pneumonia 34% kasus pada usia > 5 tahun  yang ditangani, sedangkan pada tahun 2015 jumlah penduduk 1,524,670 dan usia anak 6-12 tahun berjumlah 152467 ditemukan 88% kasus ISPA dan pneumonia 22% ( Dinkes Subang, 2015).
Hasil observasi awal di wilayah kerja Puskesmas Legonkulon pada bulan 01 Juli sampai 31 Novemeber 2015, dari hasil dokumentasi Puskesmas Legonkulon  kejadian ISPA pada anak 6 -12 tahun terdapat 125 dengan kejadian ISPA dan 33 kasus pnoumonia. Jumlah anak usia 6-12 tahun terdapat 530 jiwa dari jumlah Kepala keluarga (KK) 426. Observasi di perumahan juga di lakukan dan hasil pendataan ada 1804 KK dari jumlah penduduk ±5596 jiwa di desa Legonkulon yang memiliki rumah sebanyak 765 rumah, terdapat 574 tipe rumah sehat dan 191 rumah yang tidak sehat yang beresiko timbulnya kejadian  ISPA, dan mengganggu kesehatan anak usia sekolah yang sedang aktifnya bermain.
Masih ditemukan rumah penduduk yang tidak permanen dan semi permanen. Rumah yang tidak permanen diantaranya ditandai dengan seluruh bangunan menggunakan bahan yang mudah terbakar seperti kayu dan bambu serta lantai belum berubin, tingkat kebersihan kurang, pencahayan dan ventilasi kurang dari  <10% dari luas lantai. Sementara untuk rumah semi permanen ditandai dengan bangunan rumah yang dinding rumahnya baru sebagian menggunakan bahan yang tidak mudah terbakar (tembok). Penduduk yang memiliki ternak seperti kambing dan ayam, umumnya menempatkan kandangnya dekat rumah untuk keamanan, upaya yang dilakukan petugas kesling di Puskesmas Legonkulon sudah melakukan upaya inspeksi sanitasi  pemukiman, inspeksi sanitasi sarana umum, dan infeksi pemicuan dengan metode CLS dan penyuluhan.
Banyak faktor yang mempengaruhi tingginya kejadian ISPA pada balita dan anak usia 6-12 tahun yakni faktor intrinsik (umur, statu gizi, status imunisasi, jenis kelamin) dan faktor ekstrinsik (perumahan, lingkungan, sosial ekonomi, pendidikan) (Muluki, 2008).
 Berdasarkan data inilah maka penulis tertarik melakukan penelitan untuk mengidentifikasi hubungan lingkungan fisik rumah dengan kejadian ISPA pada anak usia sekolah dasar 6-12 tahun di desa Legonkulon.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana “Hubungan lingkungan fisik rumah dengan kejadian ISPA pada anak usia sekolah dasar  usia 6-12 tahun di desa Legonkulon wilayah kerja Puskesmas Legonkulon Kabupaten Subang tahun 2015”.

C.    Tujuan Penelitian

1.      Tujuan umum
Untuk mengetahui hubungan lingkungan fisik rumah dengan kejadian ISPA pada anak usia sekolah dasar  usia 6-12 tahun di desa Legonkulon wilayah kerja Puskesmas Legonkulon kabupaten Subang tahun 2015.
2.      Tujuan Khusus
a.       Mengetahui lingkungan fisik rumah di keluarahan Legonkulon wilayah kerja Puskesmas Legonkulon Kabupaten Subang 2015.
b.      Mengetahui kejadian ISPA pada anak usia sekolah dasar 6 - 12 tahun di desa Legonkulon wilayah kerja Puskesmas Legonkulon kabupaten Subang tahun 2015.
c.       Mengetahui hubungan antara Lingkungan fisik rumah dengan kejadian ISPA di desa Legonkulon wilayah kerja Puskesmas Legonkulon kabupaten Subang 2015.


D.    Manfaat Penelitian

1.      Manfaat Teoritis
Dengan adanya penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk dapat memberikan sumbangan ilmiah bagi perkembangan ilmu keperawatan anak dan keperawatan komunitas.
2.      Manfaat Praktis
a)        Bagi Institusi Stikes prodi Keperawatan
Penelitian ini diharapkan menjadi salah satu masukan untuk melakukan asuhan keperawatan anak tentang hubungan lingkungan fisik rumah dengan kejadian ISPA pada anak usia 6-12 tahun.
b)        Bagi Puskesmas
Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan dalam meningkatkan kinerja suatu program pelayanan kesehatan khususnya pelaksana Program pemberantasan penyakit menular (P2M) dan informasi bagi tenaga kesehatan di Puskesmas Legonkulon untuk  pembuat kebijakan dan dapat memberikan penyuluhan kesehatan terkait dengan ISPA.
c)        Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu wawasan dan menambah pengalaman dalam menerapkan ilmu yang didapat selama kuliah ke dalam praktik nyata, sebagai bahan perbandingan dan informasi untuk peneitian lebih lanjut tentang hubungan lingkungan fisik rumah dengan ISPA.
3.      Ruang Lingkup Penelitian
1.      Ruang lingkup waktu
Ruang lingkup waktu yang dilaksanakanya mulai tanggal 01 November 2015 sampai tanggal 31 Januari 2016.
2.      Ruang Lingkup Tempat
Tempat penelitian ini a dilaksanakan di Wilayah Legonkulon Kabupaten Subang tahun 2015
3.      Ruang lingkup materi
Penelitian ini mencakup materi tentang penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) anak dan faktor lingkungan fisik rumah.
4.      Ruang Lingkup Metode
Penelitian ini merupakan hasil penelitian kuantitatif dengan keluarahanin pendekatan korelasi cross sectional. Metode pengumpulan data dengan menggunakan lembar observasi lingkungan fisik rumah standar KEMENKES dan ISPA menggunakan lembar skrining form Puskesmas.

Rabu, 09 September 2015

Musik

Bab IV

BAB V

Bab III

BAB III

METODE PENELITIAN


A.   
LINGKUNGAN FISIK RUMAH ;
ΓΌ  Luas dan kelayakan ventilasi
ΓΌ  Kelembaban dan keadaan dinding
ΓΌ  Jenis dan kebersihan lantai
ΓΌ  Cara pembuangan sampah
ΓΌ  Kebersihan Kamar mandi
Kerangka Konsep







KEJADIAN ISPA
 ( Infeksi Pernafasan Akut )
hubungan
Anak usia sekolah; umur, jenis kelamin, pendidikan, pola asuh, keadaan lingkungan
Pengaruh



Down Arrow: Resiko terjadi
 
























Gambar 3.1. Skema Kerangka Konsep

B.     Hipotesis

1.      Ada hubungan yang mempengaruhi antara jenis lantai rumah dengan kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak sekolah dasar di wilayah kerja Puskesmas Legonkulon Kabupaten Subang.

2.      Ada hubungan yang mempengaruhi antara kondisi dinding rumah dengan kejadian kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak sekolah dasar di wilayah kerja Puskesmas Legonkulon Kabupaten Subang.
3.      Ada hubungan yang mempengaruhi antara luas ventilasi rumah dengan kejadian Infeksi Saluran Pernafasan pada anak sekolah dasar di wilayah kerja Puskesmas Legonkulon Kabupaten Subang.
4.      Ada hubungan yang mempengaruhi jenis lantai dan kebersihan lantai dengan kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut sekolah dasar di wilayah kerja Puskesmas Legonkulon Kabupaten Subang.
5.      Ada hubungan yang mempengaruhi cara pembuangan sampah dengan kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak sekolah dasar di wilayah kerja Puskesmas Legonkulon Kabupaten Subang.
6.      Ada hubungan yang mempengaruhi kebersihan kamar mandi dengan kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada anak sekolah dasar di wilayah kerja Puskesmas Legonkulon Kabupaten Subang.

C.    Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini terdiri dari Soeparto , et al. dalam Nursalam (2008) mendefinisikan variable adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda terhadap sesuuatu (benda, manusia dan lain-lain). Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2009)
Variabel pada penelitian ini adalah variable terikat (dependen) merupakan  variable yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variable bebas (Sugiyono, 2009). Dalam penelitian ini hubungan lingkungan fisik rumah sebagai variable dependen. Variabel intervening merupakan variable yang diangkat untuk menentukan apakah mempengaruhi hubungan antara variable bebas dan variable terikat (Nursalam , 2008). Dalam penelitian ini Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut dipilih sebagai variable intervening

D.    Rancangan Penelitian

1.      Jenis penelitian
Jenis penelitian yang di gunakan adalah penelitian analitik, merupakan suatu penelitian yang mencoba mengetahui mengapa masalah kesehatan tersebut bisa terjadi, kemudian melakukan analisa hubungan antara factor resiko ( faktor yang mempengaruhi efek) dengan faktor efek (faktor yang di pengaruhi resiko) Riyanto, 2011, p.28)
2.      Pendekatan waktu dan pengumpulan data
Pendekatan waktu pengumpulan data dilakukan kurang lebih 1 bulan.
3.      Metode pengumpulan data
Desain penelitian menggunakan desain kasus-kontrol yaitu dengan metode retrospective study dengan pendekatan kasus kontrol yaitu penelitian analitik yang bersifat observasional, penelitian ini merupakan penelitian epidemologis analitik observasional yang menelaah hubungan antara efek (Lingkungan fisik rumah) tertentu dengan factor resiko tertentu. Penelitian ini di mulai dari menengidentifikasi pasien dengan efek penyakit tertentu ( peningkatan kejadian penyakit ISPA) dan kelompok tanpa efek( dis sebut dengan control ), kemudian secara restropektif di teliti factor resiko yang dapat menerangkan mengapa kasus terkena efek, sedangkan control tidak. ( Sastroasmoro dan Sofyan. 2010. P.127)

Penelitian retrospektif merupakan penelitian untuk mengetahui hubungan yang menyebabkan kejadian sakit. Adapun skema dari penelitian ini adalah sebagai berikut ;
+
-
+
-
FR
FR
Kasus
Kontrol
Populasi
 









Gambar 3.2 Penelitian Retrospektif .

Keterangan :

FR = faktor risiko

-     = kondisi fisik rumah tidak memenuhi syarat

+          = kondisi fisik rumah memenuhi syarat

E.     Definisi Operasional

Untuk dapat melihat secara jelas definisi  operasional dari penelitian ini dapat terlihat pada tabel berikut.
Tabel 1 : Definisi Operasional
Variabel Penelitian
Definisi Operasional
Cara Ukur
Hasil Ukur
Skala
Lingkungan Fisik Rumah






F.     Populasi dan Sampel

1.      Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2012). Populasi dari penelitian ini adalah seluruh pasien rawat jalan dan rawat inap di Puskesmas Legonkulon Subang dan dinyatakan menderita Infeksi saluran pernafasan akut. Pada Bulan Juni  - Agustus tahun 2015 tercatat sebanyak 99 kasus pada anak usia sekolah 6-12 tahun

2.      Sampel Penelitian
 Jumlah sampel dihitung dengan rumus sebagai berikut:
P1
=
(OR)P2


(OR)P2
+                (1
− P2 )





n = Z 21−Ξ± / 2{1/[P1(1 − P1)] +1/[P2 (1 − P2 )]} [ln(1 −Ξ΅)]2
Keterangan:

n    = besar sampel

Z    = nilai pada kurva normal

P1  = proporsi terpapar pada kelompok kasus

P2  = proporsi terpapar pada kelompok pembanding (0,01 s/d 0,90)

Ξ΅ = presisi/penyimpangan (0,10;0,20;0,30;0,40;0,50) OR = berkisar antara 1,25 – 4,0
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh jumlah sampel kasus sebanyak … anak anak usia sekolah penderita ISPA di wilayah kerja Puskesmas Legonkulon. Jumlah sampel kontrol diambil dari pasien rawat jalan dan rawat inap di Puskesmas Legonkulon tetapi tidak menderita sakit ISPA yang sama jumlahnya dengan sampel kasus sebanyak …….anak usia sekolah.

Kriteria inklusi sampel kasus meliputi:

a.    Anak yang berumur 6 - 12 tahun

b.   Dinyatakan menderita ISPA oleh dokter/petugas paramedis terlatih.

c.    Berjenis kelamin peremuan dan laki - laki

d.   Bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Legonkulon

Sedangkan kriteria eksklusi sampel kasus adalah anak sekolah yang berumur kurang dari 12 tahun yang menderita ISPA dan di sertai Syndrom dispepsia.


G.    Etika Penelitian  

Etika Penelitian merupakan suatu sistem nilai atau normal yang harus dipatuhi oleh peneliti saat melakukan aktivitas penelitian yang melibatkan responden (Polit & Hungler).
Penelitian ini telah memenuhi beberapa prinsip etik, yaitu:
1.      Right to self determination
Responden diberikan hak otonomi untuk berpartisipasi atau tidak berpartisipasi dalam penelitian.Setelah mendapatkan penjelasan dari peneliti yang berisi prosedur penelitian dan  manfaat penelitian, responden diberikan kesempatan untuk menyetujui atau menolak berpartisipasi dalam penelitian. Responden juga dapat mengundurkan diri dari penelitian tanpa konsekuensi apapun.
2.      Informed Consent
Setelah memperoleh penjelasan dari peneliti tentang tujuan, manfaat dan prosedur, responden diberikan lembar persetujuan menjadi responden yang sudah disiapkan sebelumnya oleh paneliti. Apabila setuju untuk menjadi responden dalam penelitian, maka responden diminta untuk menandatangani lembar persetujuan tersebut.
3.      Right to privacy and dignity
Peneliti melindungi privasi dan martabat responden. Selama penelitian, kerahasiaan dijaga dengan cara melaksanakan tindakan penjelasan dan persetujuan serta pengambilan data responden dilakukan peneliti hanya dengan angota kelurga responden tanpa ada masyarakat dan teteangga lain.
4.      Right to anonymity and confidentiality
Data penelitian yang dari responden tidak disertai dengan identitas responden tetapi hanya dengan kode responden. Data yang dipeiperoleh dari responden hanya diketahui oleh peneliti dan responden yang bersangkutan. Pada pengolahan data, analisis dan publikasi dari hasil penelitian tidak dicantumkan identitas responden.
5.      Right to fair treatment
Kedua kelompok penelitian mendapatkan tindakan sanitasi lingkungan sesuai dengan standar operasional Dinas Kesehatan sehingga para pasien di masyarakat mendapatkan intervensi pencegahan penyakit menular dan ISPA
6.      Right to protection from discomfort and harm
Kenyamanan responden dan risiko dari intervensi yang diberikan selama penelitian tetap dipertimbangkan dalam penelitian ini. Kenyamanan responden baik fisik, psikologis dan sosial dipertahankan dengan memberikan pelayanan kesehatan terpadu, support dan reinforcement positif pada responden

H.    Alat Pengumpulan Data

1.      Instrumen Penelitian
Penelitian ini menggunakan instrumen ;
a.       Alat ukur penelitian
ΓΌ  Format kuisoner
Kuisioner ini adalah untuk mendapatkan informasi subyek penelitian melalui wawancara.
ΓΌ  Data yang dikumpulkan adalah data sekunder dengan melakukan studi dokumen/ arsip laporan rutin Puskesmas yang ada di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Subang

ΓΌ  Sedangkan data primer diperoleh dengan cara pengamatan/observasi

b.      Cara penelitian
Pewawancara yang telah dilatih melakukan pengukuran menggunakan kuisioner untuk mengukur kebiasaan dan hygrometer untuk mengukur suhu dan kelembaban terhadap kondisi rumah responden dengan mendatangi setiap rumah responden dan juga dengan melakukan observasi atau pengamatan.

c.       Identifikasi Variabel
a.        Variabel bebas adalah lingkungan fisik rumah yang meliputi jenis lantai rumah, dinding rumah, ventilasi rumah, Kamar mandi, dan pekaranagan

b.        Variabel terikat adalah kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut


2.      Uji validitas
Validitas adalah suatu indek yang menunjukan alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang diukur. Pada penelitian ini uji validitas tidak dilakukan karena pengukuran intensitas nyeri menggunakan pengukuran yang sudah baku (Nugroho, 2008)

3.      Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah indek yang menunjukan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti menunjukan sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten atau tetap asas bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama, dengan menggunakan alat ukur yang sama. Pada uji reabilitas tidak dilakukan karena pengukuran intensitas nyeri berdasarkan teori yang sudah baku (Nugroho, 2008).

I.       Prosedur Pengumpulan Data   

1)      Pengolahan data
ΓΌ  Editing
Pada tahap ini peneliti melakukan pengecekan terhadap data-data yang ada, terutama dalam kelengkapan data yang dikumpulkan itian. Hal ini dilakukan di lapangan apabila terdapat data yang meragukan ataupun salah maka  dijelaskan lagi ke responden. Data yang sudah diedit kemudian dikodifikasi.
ΓΌ  Coding
Coding adalah proses mengkonversi (menerjemahkan) jawaban-jawaban yang terkumpul dari responden ke dalam kategori-kategori dengan cara memberi kode/tanda berbentuk angka pada masing-masing jawaban sehingga lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan untuk keperluan analisis (Nugroho, 2008).Kodifikasi untuk 1 penurunan intensitas nyeri dan 2 tidak terdapat penurunan intensitas nyeri
ΓΌ  Entry data
Memasukan data dengan bantuan bantuan software komputer sesuai dengan kodifikasi yang telah dibuat.
ΓΌ  Cleaning
Data yang sudah dimasukan dilakukan pengecekan ulang untuk melihat bila terdapat data yang terlewat atau Missing.

J.      Analisis Data

a.       Analisa data
      Analisis data yang dilakukan melalui program statistik aplikasi komputer melalui 2 jenis analisa statistik yaitu :
1)      Analisis Univariat
Analisis Univariat dilakukanuntuk melihat gambaran distribusi  frekuensi (Arikunto, 2006).
Data dipesentasikan dengan rumus :
P          = a/b x 100 % 
P          : Persen
a          : Jumlah responden yang diamati
b          : Jumlah total responden
Data kemudian dilakukan  interpretasi sebagai berikut :
     0 %                         : Tak seorangpun responden
            1-19 %                         : Sangat sedikit responden
            20-39 %                       : Sebagian kecil responden
            40-59 %                       : Sebagian Responden
            60-79 %                       : Sebagian besar responden
            80-99%                        : Hampir seluruh responden
            100 %                          : Seluruh responden
2)      Analisis bivariate
Analisis  bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel independent dengan variable dependent dengan mengunakan uji t test. Adapun keputusan uji dari uji t testmenggunakan rumus yaitu :
                                    thitung =    d
                                                  S/ √n             

           
Dimana df = n-1

            Keterangan :
d ( debar)         :rata-rata selisih/deviasi pengukuran pertama dan kedua
            S                      : standar deviasi dari nilai d
            n                      : jumlah sampel
xAdapun keputusan uji dari uji t test yaitu :
1)      Jika Statistik Hitung (angka t output) > Statistik Tabel (tabel t), maka Ho ditolak. Artinya ada pengaruh hubungan lingkungan fisik terhadap kejadian ISPA pada anak usia sekolah di kelurahan Legonkulon wilayah kerja UPTD Puskesmas Legonkulon Suabang.
2)      Jika Statistik Hitung (angka t output) < Statistik Tabel (tabel t), maka Ho diterima. Artinya tidak ada pengaruh hubungan lingkungan fisik terhadap kejadian ISPA pada anak usia sekolah di kelurahan Legonkulon wilayah kerja UPTD Puskesmas Legonkulon Suabang.